KEADILAN     UNTUK     RAKYAT                 BERSIH     TRANSPARAN     PROFESIONAL    
Home » BERITA, NEWS » Basuki Kenyang Berpolitik

Ahok.Org – Wakil Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama mengatakan sudah muak berpolitik. Selama 10 tahun menjadi politisi, Basuki jadi mengenali bagaimana ciri-ciri orang yang berpolitik secara sehat ataupun yang hanya ingin kesenangan semata.

“Saya sudah kenyang sudah 10 tahun berpolitik, bahkan saya sudah muak berpolitik. Makanya saya sudah muak bercerita soal agama dan soal akhlak,” kata Basuki.

Hal itu dikatakan dia saat menjawab pertanyaan peserta seminar yang berlangsung di RS Husada, Jakarta Pusat, Selasa (19/2/2013). Peserta itu bertanya tentang akhlak dan kepribadian orang.

Menurut Basuki, yang terpenting adalah perbuatan. “Kalau saya ke gereja setiap Minggu itu urusan saya, karena saya takut ada neraka. Saya juga tidak tahu ada atau tidak surga itu, ya saya percaya saja,” kata Basuki yang diiringi tepuk tangan oleh peserta seminar, di RS Husada, Jakarta, Selasa (19/2/2013).

Basuki menceritakan, kalau kakek, ayah, dan adiknya yang sudah meninggal dunia tidak pernah mengajarkannya mengenai keberadaan surga dan neraka. Oleh karena itu, hingga saat ini, ia tak mengetahui apakah surga dan neraka itu benar ada atau tidak.

Selain itu, menurut dia, negara itu dapat rusak karena mencampurkan urusan agama dengan politik, dengan kata lain, politisasi agama.

“Kerusakan akhlak itu bukan urusan politik, jelas. Negara ini rusak karena mencampurkan agama dan politik. Kita bisa berdebat di luar itu Pak, munafik. Hal itu secara tidak langsung dilanggar, ada enggak pejabat yang berani melaporkan harta kekayaannya? Tidak ada yang berani Pak, munafik,” cetus Basuki.

Untuk itu, Basuki meminta agar publik tidak lagi mengungkit-ungkit soal agama. Bahkan, Basuki pun tak peduli apabila melalui perkataannya itu, ia dicap menjadi seorang yang sekuler (ideologi yang menyatakan bahwa sebuah institusi itu harus berdiri terpisah dari agama atau kepercayaan).

“Jadi kita kerja sajalah dan cap saya ini sebagai sekuler nomor satu, (biarlah dianggap) paling bejat ini saya,” kata Basuki.

Arogan

Wakil Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama kerap mengancam akan memecat para pegawai yang tidak dapat melaksanakan tugasnya secara baik. Ia tak peduli kalau dicap sebagai seorang yang arogan.

“Orang bilang saya arogan sekali, memang arogan saya. Sebab, negara ini tidak bisa dipimpin baik-baik, mesti diajak berantem,” kata Basuki saat menjadi pembicara dalam seminar Perubahan Lingkungan dan Strategi RS Nirlaba di Indonesia di RS Husada, Jakarta, Selasa (19/2/2013).

Menurut Basuki, gaji dokter saat ini kalah besar dengan gaji sopir transjakarta. Tahun ini, kata dia, semua koridor mendapat 3,5 kali dari besaran upah minimum provinsi (UMP) menjadi Rp 7,2 juta per bulan.

“Kalau dia (sopir transjakarta) sembarangan, kami pecat. Yang susah lebih banyak, jadi kira-kira begitu. Kalau macam-macam, saya akan singkirkan Anda,” kata Basuki.

Di dalam seminar itu, Basuki menerima banyak keluhan dari pihak rumah sakit atas semakin membludaknya pasien setelah diterapkannya program Kartu Jakarta Sehat (KJS). Basuki pun mengaku tak bisa berbuat apa-apa karena Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) DKI yang masih belum disahkan.

“Kami baru tahap menjanjikan bakti sosial setiap hari di puskesmas. Dokter-dokter juga masih digaji murah. Dokter ini semua dasarnya dibiayai UMP Rp 2,2 juta kemudian ada kerja sama medis lagi,” kata Basuki.

Saat ini, kata Basuki, ia sedang melakukan uji coba dengan dokter-dokter di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo untuk menaikkan kapasitas dokter-dokter ke lini depan sehingga semua dokter memiliki standar RSCM.

“Jadi enggak perlu jauh-jauh ke lagi ke RSCM untuk berobat, cukup ke puskesmas, misalnya dokter di puskesmas itu dapat mengobati orang TBC atau demam berdarah,” katanya. [Kompas.com]

  • Share/Bookmark

17 Responses to “Basuki Kenyang Berpolitik”

  1. Betul, Betul, Betul
    Bpk Basuki Tjahaja Purnama.
    Seperti kata bijak Gus Dur : ‚ÄúTidak penting apa pun agama atau sukumu. Kalau kamu bisa melakukan sesuatu yang baik untuk semua orang, orang tidak pernah tanya apa agamamu”
    SALAM JAKARTA BARU

    Reply
  2. penjajah paling kejam didunia ini adalah penjajahan belanda, bayangkan 350 thn menduduki Indonesia tapi sedikit sekali warisan budaya bahkan hari ini hampir tidak ada 1 org pun bisa bhs belanda tapi warisan adu domba, politisasi etnis, politisasi agama masih subur sampai hati ini.

    Reply
    • Bung Otnat, sudah basi menuduh belanda sbg penjajah paling kejam di dunia kpd Indonesia. sekarang saya boleh bilang, betapa lebih bejat n kejamnya itu budaya arab & sepak terjangnya menjajah Indonesia. menjadikan para TKI & TKW kita sbg budak2 dengan perlakuan hewani. Lalu pesta pora sex itu para lelaki arab dengan kawin kontrak secara hukum agama tok (tidak diakui oleh hukum negara Indonesia)ke perempuan2 indonesia baik di negaranya sana terlebih lagi di Indonesia ( daerah puncak, sukabumi ). stelah puas ngeseks, bayar upah jasa pelayanan seks ke perempuan2 indonesia sambil menanamkan benih bayi2 blasteran untuk jadi beban ekonomi bagi pemerintah Indonesia. menceraikan perempuan Indonesia hanya lewat sms tok. kalaupun akhirnya ada anak2 itu dibawa ke tanah arab (walau sedikit sekali jumlahnya), paling untuk dijadikan budak di rumah orang arab :P. Lebih kejam mana…. Belanda atau Arab Gila ????

      Betul kata Pak Ahok. Urusan agama harus dipisahkan total dari urusan pemerintahan & bangsa.

      Reply
      • ibu/mbak/non Grace, mohon maaf ini cerita masa lalu tapi sistem yg dibuat saat itu berakibat sampai hari ini. Org2 arab yg diceritakan diatas sangat biadab & kejam tapi perbuatan mereka lebih merupakan kejahatan kemanusiaan bukan merupakan suatu sistem. Spanyol menebar peperangan penjajahan sebagian dilandasi keinginan menyebarkan kekristenan yg mereka anggap baik. Sehingga hampir seluruh amerika selatan beragama katolik, berbahasa spanyol, bernama spanyol, berbudaya spanyol, inggris menjajah karena ekonomi negrinya sendiri tapi setidaknya mereka menanamkan sistem ekonomi yg bermanfaat baik, itu bisa dilihat di negara2 bekas jajahan inggris. Tapi realitasnya bagaimana penjajahan belanda di Indonesia. Penjajah belanda wkt itu membangun greja kristen yg mereka yakini itu baik hanya unt dirinya sendiri, membangun sekolah yg baik unt org belanda sendiri, rumah, infrastruktur hanya unt dirinya sendiri ( baca ” A Visit to Java” W Basil Worsfold 1893). Sedangkan unt masyarakat jajahannya adalah sistem adu domba yg diwariskan sampai hari ini. Peristiwa mei 1998 yg sebelumnya kerusuhan skala lebih kecil terjadi dibanyak tempat di daerah sama persis dg cara penjajah belanda membuat kerusuhan anti org cina di jaman penjajahan ( baca “Rumah Kaca” Pramoedia Antatoer & buku2 beliau yg lain yg dilarang dijaman order baru). Sebab itu saya menyimpulkan sejarah penjajahan yg paling kejam adalah belanda. Btw jika pemikiran saya salah saya mohon maaf, sebenarnya saya sendiri masih mempunyai darah belanda…. Salam

        Reply
        • ga usah ngomongin yg ga kita lihat…karena kebodohan kita, menyalahkan orang lain. belanda n jepang kalo ga datang jalan2 ga akan datang,rel kereta api ga ada. pendidikan formal ga ada, kedisiplinan ga ada. semua dirancangkan untuk kebaikan. hal2 yg negatif dari mereka digunakan untuk bercermin untuk tidak dilakukan ke sesama.
          kebiasaan kita menghina terus belanda terutama tapi yang terlihat sekarang bahwa sesama bangsa sendiri lebih kejam ke sodaranya.
          tidak ada hak kita untuk menghakimi.segala keterpurukan kita adalah karena kita kurang bersyukur dan tidak bisa menjaga n mengembangkan karunia yg sudah ada pada kita.
          orang maju n tahu bersyukur tidak akan pernah menyalahkan masa lalu. semua kembali ke kita, karena kita diciptakan sempurna tahu mana yg baik dan yg tidak baik…

          Reply
  3. Iman tanpa perbuatan adalah mati.
    Perbuatan, maksudnya apa yg dilakukan kita untuk sesama itulah ibadah yang sejati.
    Tidak usah bicara banyak ttg agama. Langsung diterapkan saja dalam keseharian. Percuma bicara agama kalau perbuatannya nol besar.

    Reply
  4. MOTIVATORIUM SOSIAL-POLITIK

    Ini kritik buat Pak Wagub DKI Jakarta : tak dapat dihindari bahwa pada kenyataannya setiap manusia adalah mahluk politik (zoon politicon) — eksodus besar-besaran masyarakat desa dari daerah menuju Jakarta untuk mendapatkan penghasilan dan kesejahteraan yang lebih layak itu bukan sekedar peristiwa sosial-ekonomi semata karena di balik peristiwa itu ada motif politik-ekonomi. Bertumbuh-kembangnya rumah-rumah sakit di Jakarta itu bukan sekedar fakta sosial bahwa semakin hari semakin banyak masyarakat membutuhkan layanan rumah sakit, tapi di balik fakta itu ada kepentingan politik-ekonomi dalam konteks pasar bebas. Sistem yang bobrok dan brengsek ini sudah mengaburkan (menyamarkan) banyak hal, hampir di semua aspek kehidupan bermasyarakat, berpemerintahan, berbangsa, bernegara, BAHKAN DALAM KONTEKS AGAMA. POLITIK dan SISTEM POLITIK adalah produk berfikir manusia — begitu juga dengan bermacam istilah seperti munafikisme, mukabadakisme, aroganisme, sekulerisme, hedonisme, pragmatisme,dlsb., dlsb., semua itu cuma sekedar “istilah” yang lahir dari produk berfikir manusia namun pada saat-saat tertentu dapat digunakan untuk kepentingan politis seseorang atau segerombolan orang. POLITIK BISA JELEK ATAU BAIK SANGAT DIPENGARUHI OLEH WATAK, MORALITAS, SERTA AKHLAK SI PENGAMBIL KEPUTUSAN POLITIK ITU — JADI BUKAN KARENA AGAMANYA. Artinya : watak (karakteristik), moralitas, serta akhlak yang baik dalam perilaku sosial-politik masih sangat dibutuhkan untuk menyelamatkan nasib bangsa dan negara ini dari cengkraman sistem yang bobrok dan brengsek sebagai produk berfikir dari gerombolan politikus berakhlak brengsek. Berangkat dari kondisi faktual, saya sangat sependapat dengan argumentasi Pak Wagub bahwa munafikisme memang ada di mana-mana — bahkan hingga ke wilayah-wilayah agama yang seharusnya bebas dari serangan munafikisme, apa pun agamanya. Kalau boleh saya tambahkan : kondisi saat ini semakin menjelaskan bahwa agama hanya dijadikan hiasan politik keagamaan, kehilangan makna kesalehan sosialnya, bahkan posisi Tuhan sudah ditempatkan di keranjang sampah oleh para pemeluknya sendiri hanya demi kepentingan ambisi, nafsu, dan keserakahan pemeluk agama itu sendiri — dan kondisi faktual seperti ini ada di semua pemeluk agama, tapi tidak semua pemeluk agama (secara orang per orang) bersikap seperti itu. Jadi, tidak dapat digeneralisir secara membabi-buta, begitu juga dalam konteks politik dan berpolitik (zoon politicon). Sikap berfikir dan perilaku politik seperti dianjurkan oleh NICCOLO MACHIAVELISME YANG MENGHALALKAN SEGALA CARA memang tidak cocok untuk negeri bernama INDONESIA karena PARA PENDIRI BANGSA INDONESIA SUDAH MENEGASKAN DAN MENETAPKAN DENGAN PENUH KEGAGAHAN DAN KEBERANIAN BAHWA KITA BERPEGANG PADA AZAS PANCASILA BERBASIS KEBHINNEKAAN — meskipun kita berbeda-beda tetapi tetap satu. Kalau kita mau merubah sejarah para pendiri bangsa Indonesia BERARTI KITA MENGINGINKAN REVOLUSI BESAR-BESARAN. Substansi persoalan yang sedang dihadapi oleh masyarakat dan bangsa ini adalah KETIDAKADILAN yang bersumber dari sistem yang bobrok dan brengsek ini — politisasi agama dan jenis-jenis politisasi lainnya (termasuk politisasi penyanyi dangdut yang bugil di depan anak-anak) hanya dapat hidup dan berkembang-biak di dalam sistem yang bobrok dan brengsek ini. Sistem yang bobrok dan brengsek ini sudah lama terbukti mampu merubah orang cerdas (siapa pun dia dan apa pun jabatan atau agamanya) hingga menjadi blo’on tak terhingga; mengubah si pemberani menjadi pengecut; mengubah orang-orang saleh beriman hingga kedodoran integritas moralnya (jadi bejat), dan seabreg-abreg fakta serta indikasi-indikasi lainnya. Saya setuju dan mendukung orientasi politik yang dibentangkan di Ahok.Org ini : “Jakarta Yang Kita Perjuangkan adalah Jakarta Yang Manusiawi dan Bermartabat” — dan syarat untuk mewujudkan orientasi politik seperti itu adalah TEGAKNYA KEADILAN UNTUK SEMUA. Orang yang logika berfikirnya berdiri tegak dan tidak letoy atau sempoyongan pasti tau ukuran adil atau tidak adil. Jadi, MUSUH KITA BERSAMA ADALAH KETIDAKADILAN YANG BERSUMBER DARI SISTEM YANG BOBROK DAN BRENGSEK dan sebagai produk berfikir politis manusia.

    Reply
  5. -politic is politic, none with morality inside, only happened in this country
    -essence of politic being domesticated by intern, every we see it
    -Ahok,….. “agama ageming ati”….cool, man

    Reply
  6. Keep going Sir, you do the right thing. Good speech !

    Reply
  7. Setuju pak ahok Agama tdk bisa disamakan dengan Politik,agama manapun mengajarkan kebaikan,jadi dengan perbuatan kebaikan kepada sesama manusia adalah ajaran agama.klo ada orang beragama berbuat kejahatan tentu itu bukan ajaran agama,semoga rakyat indonesia kembali menjalankan ajaran agamanya masing2 dengan kebaikan pada orang lain tanpa cara2 politik yg kotor.Pak ahok baik,tegas tujuannya,cuma cobalah lebih elegan/kurangi tempramen tinggi dalam berbicara tapi tetap tegas.bravo ahok

    Reply
    • ane lebih setuju pa wagub seperti ini dalam memimpin dengan disiplin dan arogan tetapi bersih dan jujur dari pada dari pada tegas tapi munafik lebih baik apa adanya lanjutkan aja pa wagub perlu arogan untuk orang yg membandel

      Reply
  8. MOTIVATORIUM SOSIAL-POLITIK

    Buat Bro @Ard : ini cuma sekedar share aja, tidak ada maksud sedikit pun untuk “menggurui” siapa pun — moralitas dalam berpolitik dan dalam upaya penegakan hukum itu sangat penting, dan itu tidak harus dengan mengatasnamakan agama apa pun. Sebab sudah cukup banyak fakta bahwa seseorang yang tidak terlalu rajin beribadah tapi ternyata dia memiliki kesantunan moralitas yang jauh lebih tinggi ketimbang orang-orang yang mengaku punya akhlak dan moral karena agamanya — padahal, perilaku (moralitas) sosial-politiknya bejad. Ini adalah fakta dan menjadi bagian dari dinamika sosial-politik-budaya yang berkembang di tengah-tengah kehidupan masyarakat. Seharusnya, bagi yang setuju agar BERPOLITIK TANPA MORAL di negeri ini, itu harus dengan mengubah Konstitusi Dasar RI dan merubah ideologi Pancasila serta menggantinya dengan ideologi POLITIK NICCOLO MACHIAVELISME. Kalau itu benar-benar dilakukan, bangsa Indonesia beralih pada ideologi politik Machiavelisme, kita akan saksikan bersama-sama : bencana politik seperti apa yang akan muncul ke permukaan nanti…?

    Reply
  9. pa Baz sangat menguasai masalah dan sangat cerdas, kenyang asam garam politik.. koq ga ada yang kasih gelar DR (HC).. apa masih belom pantas??? ntar keduluan Univ Luar Negeri kasi gelarnya apa ga malu?
    Indonesia Mismanaged Country… parahh…

    Salam JakartaBaru

    Reply
  10. Buat Bro @Buchebp : ngapain repot-repot nunggu ada pihak lain yang ngasih gelar. Kumpulin aja jutaan rakyat kota Jakarta, bikinin piagam/ijazah dengan desain yang unik dan bagus, disitu tertera sbb : (pembukanya seperti umumnya ijazah perguruan tinggi) kemudian sebutkan bahwa oleh karena kalangan akademisi abai terhadap fenomena Jokowi-Ahok ini maka kami jutaan warga kota Jakarta mengambil inisiatif untuk MEMBERI GELAR KEHORMATAN KEPADA 2 FIGUR FENOMENAL JOKOWI-AHOK DENGAN GELAR DOKTOR HONORIS CAUSA UNTUK BIDANG KEPEMIMPINAN BERKUALITAS. Selanjutnya (penutup), sehubungan dengan gelar kehormatan tersebut maka kedua figur fenomenal ini berhak menggunakan gelarnya dan patut menerapkan disiplin keilmuannya untuk menggebuk para birokrat yang culas, manja, suka ngantuk, dan sudah kehilangan urat malu. He…he…he… selesai deeeeh…

    Reply
  11. MOTIVATORIUM SOSIAL-POLITIK

    Memberi kritik diperbolehkan sesuai undang-undang asalkan sesuai etika (moral) dalam berpolitik, dan akan jauh lebih bagus lagi apabila itu kritik konstruktif yang bisa memberi gambaran tentang solusi dari sebuah masalah — tapi TIDAK PERLU “menggurui” Gubernur/Wakil Gubernur DKI Jakarta dengan cara mengurai solusinya sedemikian detail seolah mengatakan, “niiih… harusnya begini, bukan begitu!” Padahal, masih terbuka kemungkinan bahwa “begono” bisa lebih baik daripada “begini” atau “begitu”.

    —————————————-

    Dalam konteks Wakil Gubernur (Ahok) sering dituding sebagai “pemarah” kita bisa lihat foto peristiwa dari Koran Fesbuk ini : http://www.facebook.com/pages/Koran-Pesbuk/359345110782925

    —————————————-

    Komentar : “Tuuuuuh… kaaaaan… makanya kalau mau ngeritik orang itu jangan asal ngejeblak ajaaaa. Foto peristiwa ini membuktikan bahwa Ahok tidak sembarangan mengumbar kejengkelannya. Artinya : Ahok tau persis kapan dia harus marah, dalam konteks apa, di mana tempatnya, kepada siapa dia marah — yang jelas, gak mungkin Ahok marah kepada penghuni kebon binatang Ragunan. Jelas kaaaaaaaan…?!!!

    Reply

Leave a Reply