KEADILAN     UNTUK     RAKYAT                 BERSIH     TRANSPARAN     PROFESIONAL    
Home » BERITA, LAWAN KORUPSI!, NEWS » BTP: Ingin Tau Seseorang Korupsi? Ikuti Aliran Dananya

Ahok.Org – Wakil Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama menyampaikan pandangannya terkait kasus tindak pidana korupsi. Menurutnya, seseorang, khususnya pejabat, baru dapat dinyatakan terlibat kasus korupsi apabila terbukti sengaja ingin memperkaya diri.

“Yang kena itu harus betul-betul sengaja memperkaya diri secara ilegal. Ada bukti dari penelusuran aliran dananya,” kata Basuki di Balaikota Jakarta, Selasa (11/12/2012).

Basuki menegaskan, para pejabat yang diduga terlibat suatu kasus korupsi bisa saja berdalih terpaksa melakukan dengan alasan ada dalam koridor kebijakan. Itulah mengapa dirinya bersikukuh kasus korupsi dapat dibuktikan melalui penulusuran aliran dana.

Bila dikaitkan, hal ini senada dengan pidato Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada peringatan hari antikorupsi sedunia di Istana Negara, Senin (10/12/2012) kemarin. Dikatakan Presiden, berdasarkan pengalamannya memimpin negara, ada dua kasus korupsi, yakni yang disengaja, dan yang tak disengaja.

Kasus korupsi yang tak disengaja umumnya terjadi lantaran pejabat terkait tak memahami peraturan perundang-undangan sehingga dinyatakan terlibat setelah mengeluarkan suatu kebijakan tertentu.

Menanggapi itu, Basuki menyatakan sependapat dengan Presiden. Ada waktunya seorang pejabat harus mengambil sebuah kebijakan demi kelancaran negara, tetapi kemudian ditafsirkan salah. Ia juga mengaku tak merasa terbelenggu merencanakan dan mengeksekusi suatu kebijakan karena yang terpenting baginya adalah demi kepentingan warga dan semua dapat diawasi dengan transparan.

“Hakim kan punya nurani, pasti kebaca apakah korupsi atau enggak. Kalau niatnya korupsi pasti memperkaya diri secara ilegal,” ujarnya.[Kompas]

  • Share/Bookmark

19 Responses to “BTP: Ingin Tau Seseorang Korupsi? Ikuti Aliran Dananya”

  1. MANFAAT FACEBOOK dan FENOMENA JOKOWI-AHOK SEBAGAI FIGUR CALON NEGARAWAN YANG BUKAN POLITIKUS ROMBENGAN

    Dalam sebuah ketentuan yang dibuat oleh pihak Pengelola Facebook atau disebut dengan “Standar Komunitas Facebook” dijelaskan hal sebagai
    berikut : Facebook memberi kemampuan kepada orang di seluruh dunia untuk mengisahkan ceritanya masing-masing, melihat dunia melalui perspektif orang lain, serta terhubung dan berbagi di mana pun mereka berada. Percakapan yang terjadi di Facebook – dan pendapat yang diungkapkan di sini – mencerminkan keragaman orang yang menggunakan Facebook.

    Untuk menyeimbangkan kebutuhan dan minat populasi global, Facebook melindungi ekspresi yang memenuhi standar komunitas yang dijabarkan di halaman ini. Dan seterusnya, dst., dst., ……..

    Entah… saya tidak mengetahui secara persis, sejauh mana masing-masing orang (setiap individu) dalam mengoptimal manfaat fasilitas Facebook ini? Dan dalam konteks yang seperti apa saja?

    Namun, di tengah aktivitas saya mencermati dan memperhatikan fenomena kemunculan Jokowi-Ahok dengan karakteristiknya yang spectacular serta menghebohkan jagad perpolitikan nasional yang sudah dalam kondisi sangat memalukan — sebuah situasi sosial-politik dan juga produk (sistem) politik yang selama ini dinilai hanya mampu memproduksi POLITIKUS ROMBENGAN dan TIDAK BECUS MELAHIRKAN SOSOK-SOSOK NEGARAWAN yang sungguh-sungguh mencintai masyarakat, bangsa dan negara ini — dan dimana pada awal kemunculan karakteristik Jokowi-Ahok dianggap sebagai sesuatu yang unik dan “ganjil”, dianggap tidak umum dan tidak seperti biasa dilakukan oleh para politikus birokrat di era sebelumnya.

    Dalam situasi seperti itulah kemudian saya mendapat pesan melalui “kotak pesan” Facebook saya dari seseorang yang berdomisili di Bandung. Begini bunyi pesannya (dengan perubahan redaksi tanpa mengubah substansinya) :

    “Selamat malam, Pak Diding… Terima kasih telah menambahkan saya ke dalam list pertemanan Bapak. Saya sudah sejak lama jengah dengan pemerintah dan cara kerja mereka, beberapa tahun kebelakang saya tidak peduli lagi karena sudah begitu muak dengan ‘urusan’ perpolitikan di negara kita. Saya jengah dengan orang yang berteriak hentikan korupsi tapi kemudian terlibat korupsi, saya juga jengah dengan public service yang jauh dari standard, saya jengah dengan cara kerja Pemerintah Daerah yang tampak tidak becus di mata saya, hal yang paling sederhana pun misalnya KTP sangat memuakkan dan dimana saya harus berhadapan dengan perilaku pengurus2nya yang sangat tidak kompeten, dan melahirkan ‘underestimate’ terhadap ‘mereka’.

    Sampai kemudian saya melihat sepak terjang (karakteristik) Jokowi-Ahok : apa yang mereka lakukan sepertinya adalah refleksi dari alam pikiran saya, saya mulai bergairah kembali mengikuti perubahan negeri ini, saya begitu senang dengan cara mereka bekerja sejauh ini (mudah-mudahan tetap konsisten) dan pada akhirnya melahirkan kembali pemikiran serta harapan saya yang dulu sirna serta membangkitkan optimisme saya yang telah lama mati suri, dan menumbuhkan kembali keyakinan saya bahwa bangsa ini akan kembali menjadi besar.

    Sempat saya berkhayal (dari Bandung ini) dan ingin rasanya saya bekerja untuk mereka membantu membangun negeri ini. Seandainya mereka muncul 10 tahun yang lalu mungkin saya akan menjadi bagian dari mereka. Dan terlintas keinginan saya agar mereka mau dan bisa menjadi Presiden kita. Semoga dalam lima tahun ke depan mereka betul-betul bisa merubah keadaan Kota Jakarta dan kita dukung untuk merubah Indonesia,” begitulah pesan yang sarat dengan kondisi putus asa (dalam konteks berpemerintahan, berbangsa dan bernegara) namun kemudian bangkit kembali seluruh energi dan harapannya setelah munculnya karakteristik kepemimpinan Jokowi-Ahok meskipun sama sekali tidak terkait dengan Pemimpin Pemerintahan di daerahnya yang di Bandung itu — tapi dalam konteks kepemimpinan skala nasional, yaaa…!

    Lalu, apakah saya harus mengabaikan pesan-pesan seperti itu…?!!! Tentu saja : TIDAK !

    Dan saya pun langsung meresponnya sebagai berikut :

    “Kita punya keterikatan emosional yang sama dalam konteks harapan akan adanya birokrasi pemerintahan yang berkualitas dan kepemimpinan yang berkualitas menurut paradigma berpikir kita. Tapi, kita memang (setidaknya selama ini) harus sadar diri, sadar ruang dan sadar waktu — kemarin-kemarin (terutama di Jakarta) memang belum saatnya. Mungkin… sekarang inilah saatnya. Sedikit catatan : ternyata bukan cuma masyarakat Bandung saja yang menginginkan karakteristik kepemimpinan model Jokowi-Ahok ada di daerahnya, tapi (dari hasil keluyuran di kolom-kolom komentar) banyak sekali kalangan warga masyarakat di hampir setiap daerah di Indonesia yang sangat berharap hadirnya kepemimpinan model Jokowi-Ahok. Ini memang benar-benar sudah menjadi sesuatu yang fenomenal dan baru pertama kali terjadi dalam sejarah Kepemimpinan Daerah (di Jakarta) setelah jaman Ali Sadikin. Bahkan dalam konteks kebutuhan kepemimpinan nasional mungkin rating popularitas dua sosok tersebut (Jokowi-Ahok) sudah terlanjur melambung naik meskipun masih berada di bawah popularitas Presiden Soekarno. Kita ikuti saja dulu, bagaimana nanti perkembangan selanjutnya…?

    Beberapa lama sesudah membalas pesan itu, saya merasa menjadi “telmi” (telat mikir) karena tanpa saya sadari ternyata manfaat Facebook ini bisa sangat luar biasa : Facebook mampu menjembatani semua jenis komunikasi interaktif dan mewujudkan berbagai model interaksi sosial antar manusia dan di antara padatnya arus penilaian dalam konteks berbangsa dan bernegara dan di tengah bertumpuknya persoalan, harapan serta keinginan yang sangat lumrah serta biasa dimiliki oleh setiap manusia yang bukan kebetulan menjadi Warga Negara Indonesia.

    Khusus dalam konteks berbangsa dan bernegara, menurut Anda MANA SESUNGGUHNYA YANG KITA BUTUHKAN : SOSOK NEGARAWAN atau GEROMBOLAN POLITIKUS ROMBENGAN ?!!!

    Untuk komunikasi dan interaksi lebih lanjut dapat melalui : http://www.facebook.com/didingireng.chairudin
    Terima kasih…

    Reply
    • Gak jelas…. gak ngefek…

      Reply
    • suara dr bandung itu mewakili 100 persen suara non koruptor.
      jgn lama2 usung cawapres JB. 2014 SDH HRS GOL.
      kasiaaaaan rakyat bangsa kita yg sudaaaaah terlaluuuuu…..lamaaaaaa…hidup dlm penjajahan oleh tikus2 pake seragam kebangsaan

      Reply
    • saya setuju aja JB maju presiden. tp mending nanti 2019. sekarang selesaikan dulu semua potensi dan masalah yg ada di DKI. secara pribadi saya berharap Jokowi balik ke JATENG.. membangun JATENG. tp kliatannya dia sudah mjd ‘milik’ bangsa Indonesia.. saya rela menyerahkan Jokowi kepada bangsa indonesia

      Reply
  2. sebetulnya yang kita butuhkan disebuah negara adalah seorang NEGARAWAN YANG DAPAT MEMBANGUN RAKYATNYA,BUKAN GEROMBOLAN POLITIKUS ROMBONGAN YANG BISANYA KORUPSI MELULU

    Reply
  3. Pro : @anthony setiawan… Apa kabar, Bro…?

    Reply
  4. stlh JW-BTP tunjukin cara mereka memimpin,
    aq jd merasa Indonesia ternyata baru merdeka Oktober 2012 ini ,
    baru keliatan qta sedang dipimpin , ada seseorang sedang memimpin qta ,sebelum ini ga pernah terasa qta lagi dipimpin , yang ada cuma pilih pemimpin , habis itu kembali sepi tenang , gak tao apa yg sedang pemimpin qta kerjakan utk qta.

    Reply
    • BETUL SEKALI selama ini kita memang dijajah, dijajah oleh KORUPTOR:
      1. Dijajah oleh Koruptor birokrasi
      2. Dijajah oleh Koruptor Kepemimpinan
      Maksudnya cuma pemimpin yang model saya yang boleh maju dalam kepemimpinan yang model lain gak boleh maju. Kalau perlu hadang, yang bernama FEODALIS
      3. Dijajah oleh Koruptor yang bernama RASIALIS
      Tuhan tidak pernah menciptakan 1 suku bangsa, tapi ribuan, bahkan jutaan suku bangsa dan bahasa tapi Hanya orang-orang yang merasa Suku Agama dan Ras-nya saja yang boleh ada di dunia ini. Itu adalah orang yang tidak ber-Tuhan tapi mengaku ber-Tuhan. Ingat Kisah Hitler, dan banyak Hitler-hitler kecil di Indonesia yang memakai label agama.
      4. Kita di Jajah oleh Koruptor, makanya jangan sampai kita dibodohi oleh koruptor jadilah orang pintar. Pintar dalam memilih, pintar mengawal kejujuran dan kebenaran pemimpin kita. Bukan mengawal orang tidak jujur supaya bercokol terus.

      Reply
  5. Buat @Ryan… : Rakyat Kota Jakarta baru saja bisa menikmati rasa “kemerdekaan” yang lahir dari karakteristik KEPEMIMPINAN YANG ADIL DAN BERADAB. Dalam skala yang luas (Indonesia) KITA SEMUA (warga negara Indonesia) BELUM MERDEKA KARENA KEKUASAAN POLITIK DAN PRODUK SISTEMNYA MASIH DIKUASAI OLEH KEPEMIMPINAN YANG TIDAK ADIL DAN BIADAB !!! Indonesia hingga saat ini SURPLUS POLITIKUS ROMBENGAN DAN DEFISIT NEGARAWAN. Ini sekedar share aja… Dan untuk informasi dan komunikasi interaktif mengenai hal itu dapat melalui alamat facebook saya di :
    http://www.facebook.com/didingireng.chairudin

    Terima kasih.

    Reply
  6. penduduk DKI senang,kota lain masih sengsaraaaaaaaaa……

    Reply
  7. sumpah…iri sama jakarta
    semoga daerah kami di kaltim juga bisa punya pemimpin spt beliau beliau ini…

    Reply
    • semoga ya.. salam dari Kaltim

      Reply
    • Makanya pilih orang yang jujur, mobilisasi orang orang untuk memilih Orang yang JUJUR dan berINTEGRITAS. Semoga ada ya calon yang demikian di sana yang mau dan berani mengambil resiko tidak populer tapi Kebenaran dan Keadilan.

      Reply
      • tapi justru paling susah untuk mengetahui orang yang jujur bagai mencari jrum dalam tumpukan jerami hanya kemungkinan kecil kita dapat menemukannya. tapi jika sudah ketemu alangkah senangnya kita. seperti warga jakarta sekarang

        Reply
  8. semoga tetap bisa jadi pemimpin yang seperti sekarang yang bisa di banggakan oleh masyarakatnya, jangan silau oleh pujian pak gubernur dan pak wagub,karena kerendahan hati justru akan semakin meninggikan derajat manusia

    Reply
  9. Pak Ahok…

    Kasus Direktur RSUD Pasar Rebo yg plesiran keluar negeri dan terindikasi gratifikasi dari pengusaha alat kesehatan, dapat ditelusuri dgn cara melihat dana yg digunakan utk membeli tiket dan akomodasi hotel di Bangkok. Staf yg berangkat seluruhnya adalah anggota panitia lelang pengadaan alat medis di RSUD Pasar Rebo. Ini sudah jelas sekali modusnya (baca juga Suara Karya on line edisi 6 maret 2013). Coba di periksa dan diusut Pak… Jgn sampai aset pemda menjadi tempat bagi koruptor2 yg sibuk mencari keuntungan sendiri…

    Reply
  10. Menurut pendapat saya, segera JW dan BTP memperbaiki sekolah dan mengusulkan ke diknas untuk mendahulukan etika dan karakter dalam pendidikannya (kalau bahasa ustadz adalah akhlakulkarimah) karena kondisi saat ini yang begitu banyak perilaku korup dengan 1001 macam cara tidak terlepas dari penidikan di masa lalunya. Selain itu kita sdh lama kehilangan pemimpin maupun keluarganya dengan role model bersih, tidak korup, sederhana…. Yang sekarang banyak didemonstrasikan oleh para pemimpin (pejabat) kita adalah kemewahan, keserakahan dan itu awal mula sikap korup muncul

    Reply
  11. Sudah waktunya dan segera bahwa seleksi Kepala Sekolah dan Pengawas dilaksanakan secara “LELANG” sebagaimana seleksi jabatan Lurah dan Camat di DKI Jakarta.

    Bravo Pak JW dan Pak BTP…Sukses selalu dan selalu sehat demi Jakarta. Amin.

    Reply

Leave a Reply