KEADILAN     UNTUK     RAKYAT                 BERSIH     TRANSPARAN     PROFESIONAL    
Home » BERITA, NEWS, Sudut BTP, TENTANG JAKARTA » Jalur Politik Basuki, Prophetical Voice Bukan Political Voice

Ahok.Org – Berikut sedikit cerita terkait dengan pengalaman awal Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) ketika memulai menjejakkan kakinya di ranah rimba politik nasional.

…………Apa yang harus dilakukan dalam menjalankan fungsi sebagai ketua partai di kabupaten Belitung Timur yang baru ?

Apakah saya akan menjalankan “pelajaran” yang sering saya dengar dari oknum elite politik, seperti prinsip dalam hukum agama ada haram dan halal, tetapi dalam politik yang ada hanyalah menang dan kalah, jadi haram atau halal kita hantam saja, yang penting mendapatkan kekuasaan sekaligus kekayaan baik halal maupun haram tidak ada hukumnya.

Tentu saja ini tidak sesuai dengan “panggilan nurani” maupun tugas sebagai ketua partai yang memiliki tanggung jawab mendidik rakyat agar bisa memanfaatkan pesta demokrasi untuk kesejahteraan rakyat banyak.

Lalu saya harus lawan arus ? mana mungkin bisa menang dalam pemilu ? Apa yang dihadapi dalam proses verifikasi partai untuk dapat lolos menjadi peserta pemilu ?

Kalau ada yang menuduh banyak terdapat oknum di partai politik maupun elite yang korup, ternyata di rakyat banyak juga terdapat oknum yang korup.

Berikut ini saya akan menceritakan pengalaman berhubungan dengan prilaku rakyat, tentu saja tidak semua demikian, tetapi paling tidak inilah gambaran adanya oknum korup di rakyat.

Ketika akan menghadapi verifikasi, sudah ada oknum pengurus partai yang menuntut diberikan perahu motor, jika tidak maka seluruh anggotanya akan menyatakan mengundurkan diri dari partai, dengan maksud saya bisa gagal dalam menghadapi verifikasi oleh kpud. Ketika saya tolak, benar-benar mereka lakukan, akhirnya tahap I verifikasi kami gagal, setelah diperbaiki dengan daftar anggota yang lain barulah berhasil lolos.

Dalam menghadapi kampanye dan memberi daya tarik atas partai yang baru, kami melakukan banyak sekali kegiatan sosial, dari membuat podium mini lapangan bola kaki, membuat lapangan bola volley maupun bola kaki, sampai merapikan jalan , membuat sumur, membuat tambak ikan, sampai menyediakan makan di restoran dan segala baju kaos dan atribut partai.

Tentu saja banyak sekali anggota yang berhasil dijaring, persoalan mulai muncul , ketika model baju kaos yang kami cetak bervariasi, dan banyak oknum pengurus yang ingin memiliki semua model, tentu saja kami tidak berikan, karena itu mereka menyatakan keluar dari partai kami.

Sewaktu kampanye pemilu, saya harus memilih melakukan pendidikan politik atau melakukan azas saling membutuhkan dan memanfaatkan dengan rakyat pemilih ?

Jika dengan segala yang telah kami berikan, dan diteruskan dengan melakukan “bantuan uang” tentulah kami akan menuai banyak suara, tetapi jika saya menjadi anggota dprd terpilih dan “konstituen” yang memilih karena dapat sesuatu pastilah akan meminta terus, atau mereka akan mengatakan setelah pemilu lupa sama kami, dan lebih buruk lagi mereka bisa merasa tidak ada harapan, memilih siapa sama saja.

Karena itu saya mengambil satu keputusan, dalam berpolitik harus lakukan “prophetical voice bukan political voice” (artinya melakukan fungsi seperti “nabi” yang menyuarakan kebenaran dan keadilan sekalipun dengan hasil ditolak).

Sedangkan political voice artinya mau halal atau haram yang penting menang dalam pemilu, karena hanya ada prinsip “menang dan kalah” tidak ada istilah “halal dan haram”.

  • Berbagai bentuk tawaran dari oknum rakyat maupun oknum tim sukses ketika kampanye pemilu 2004 maupun pilkada 2005 dan 2007, bagaimana bentuknya ? dan bagaimana sikap saya yang telah memutuskan untuk lakukan “prophetical voices “ ? Meminta uang Rp.20.000,/ orang saja, maka pasti akan memilih partai saya, dengan sangat tegas saya tolak, tentu hasilnya tidak ada yang mau memilih di dusun tersebut.
  • Permohonan sumbangan rumah ibadah, yang sudah diajukan ke banyak partai (istilah yang memohon, apa yang akan diberikan oleh partai saudara yang merah putih, atap seng ini dari yang warna hijau, semen sudah dari yang kuning ? kami akan bagi suara kami ke partai yang telah menyumbang. Saya katakan : “kalau begitu bapak salah mengundang saya, toh masih ada belasan partai peserta lainnya, minta saja kesana “, tetapi jika setelah pemilu usai, rumah ibadah ini masih belum terselesaikan, maka bapak boleh cari saya, masalah akan diberikan atau tidak, itu urusan saya dengan Tuhan. Hasilnya ? jelas tempat ini saya kalah telak.
  • Ada yang tinggal di pulau kecil, menawarkan suara seisi pulau, asal saya menyumbangkan tangki air terlebih dahulu , karena sudah terlalu sering dibohongi oleh peserta pemilu. Jika ternyata tidak menang, mereka bersedia mengembalikannya dengan menawarkan surat jaminan di atas meterai oleh kepala dusun dan tokoh masyarakatnya, tentu saja hal ini ditolak, saya hanya katakan jika kalian memang mau memilih pejabat yang benar, setelah terpilih pastilah tangki air akan diberikan, karena sudah menjadi kewajiban pejabat memenuhi kebutuhan rakyat dari APBD, jadi bukan karena jasa saudara memilih, kalau percaya kepada saya silahkan pilih, jika tidak  ? pilih saja yang mau ngasih. Untungnya tidak ada yang memberikan, sehingga mereka sebagian besar tetap memilih saya.
  • Ada lagi dusun yang sudah memasang semua bendera partai saya bahkan telah menjadi pengurus, lalu pada suatu hari, kepala adatnya datang meminta uang Rp.4.000.000,- , jika tidak ,maka terpaksa dia akan menerima pemberian dari partai lain, dan sekaligus mohon ijin untuk ganti bendera partai saya ke partai yang memberi. Ketika saya tolak, langsung di dusun tersebut telah menghilang bendera partai saya diganti dengan bendera partai yang “warna menyolok “., hasil pemilu juga kalah total di daerah ini.
  • Sekarang kita lihat bagaimana reaksi dusun yang kami buatkan stadion mini lapangan bola kaki, lapangan bola volley, sumur air, tambak ikan, dan lain-lain, apakah mereka akan memilih kami ? yang jelas hampir semua menjadi pengurus partai, apalagi kami sediakan baju bola kaki yang bagus lengkap dengan bolanya, secara teori kami akan kuasai mayoritas di dusun ini. Akhirnya kami kalah telak , kenapa ? sederhana saja, ini disebabkan pada saat kampanye , di tengah lapangan bola kaki yang penuh sesak, saya mengatakan “goblok” ganti teriakan massa  “hidup-hidup dan merdeka”. Saya katakan kalian mendukung partai saya tanpa peduli bahkan tahu apa ideologi partai saya, yang penting karena udah mendapatkan banyak bantuan. Coba bayangkan harga baju kaos bola yang hanya Rp.15.000,- , saudara telah rela memberikan nasib saudara dan anak cucu saudara kepada partai saya , bayangkan Rp.15.000,- kalau dibagi 5 tahun ,per bulan saudara baru mendapatkan Rp.250 per bulan, sedangkan saya dapat berapa juta , di tambah karena saya tidak memperjuangkan jaminan sosial buat saudara di apbd, saudara telah “dirampok” oleh biaya kesehatan, pendidikan dan modal kerja. Keadaan membuat mereka marah, tetapi semua baju kaos tetap diambil. Saya katakan pilihlah partai yang pengurusnya tidak boleh merangkap menjadi anggota dprd, supaya bisa kalian pecat nantinya, disamping itu pilihlah partai yang memberikan kursi dprd kepada yang paling dipilih oleh rakyat, bukan berdasarkan nomor urut calon legislatif (umumnya yang nomor urut awal pasti diisi oleh pengurus atau yang paling dekat dengan pengurus yang berwenang menentukan nomor urut tersebut.

Setelah kekalahan telak di pemilu 2004, saya memang tidak berhasil membawa kemenangan telak bagi partai, tetapi berhasil mendidik rakyat untuk percaya masih ada yang memperjuangkan nasib mereka.

Ketika mencalonkan diri menjadi bupati, biaya yang dikeluarkan untuk saksi,buku visi misi, atribut dan makan minum di rumah, dengan tanpa adanya kegiatan kampanye keluar, saya hanya menghabiskan uang Rp.500 juta, kampanye bupati tanpa sepotongpun baju kaos, hasilnya ? dusun yang pernah menolak karena mengatakan saya  “goblok” telah berbalik menjadi 80% memilih saya, inilah hasil “pendidikan prophetical voices”, lalu ketika mencalonkan diri menjadi gubernur, kepercayaan dari dusun-dusun lain semakin meningkat, yang tadinya hanya memilih 1% di pemilu, di Bupati jadi 33%, saat pilkada gubernur telah meningkat menjadi rata-rata 65% – 85 %, tergantung banyaknya hak pilih yang dengan “sengaja” dihilangkan oleh oknum yang berwenang.

Dengan pengalaman di atas , terbukti rakyat mendambakan pemimpin yang bisa mensejahterakan mereka dan tidak munafik. Rakyat sudah terlalu lelah di “bohongi”, ini yang membuat mereka merasa siapapun yang jadi pasti melupakan mereka , dan pasti hasilnya buat kesejahteraan mereka sama saja., karena itu saya yakin ,begitu kita bisa membuktikan kita berbeda, pasti masih banyak rakyat yang akan memilih kita, walaupun saya berbeda dari suku, agama , ras , maupun golongan dengan mayoritas rakyat pemilih.[Ahok/Sakti]

  • Share/Bookmark

3 Responses to “Jalur Politik Basuki, Prophetical Voice Bukan Political Voice”

  1. Ko Ahok , anda memberikan pelajaran berharga dalam berpolitik, melawan arus dan menjadi kerikil bagi mereka yang ingin melestarikan budaya politik lama. Anda layak menjadi pelopor Politik Baru, dan layak memimpin Jakarta Baru bersama Jokowi.

    Reply
  2. Saya sangat salut dengan anda Pak Ahok, berani tampil beda, anti mainstream, dan memang jelas keberpihakan anda kepada rakyat. Bukan sekedar pencitraan sesaat, tapi pencitraan apa adanya. Saya teringat pernah membaca komik politik berjudul ‘Kunimitsu’ , dan sangat mirip dengan misi yang anda jalankan sekarang.
    Tetap semangat Bapak membawa angin perubahan baru untuk kota Jakarta, harapan kami semoga kehadiran Bapak dan Pak Jokowi juga melahirkan Jokowi-Ahok2 didaerah lain, karna kami sudah muak dengan kemunafikan para pejabat dan anggota dewan

    Reply
  3. BRAVO BP BASUKI!!! SAYA DUKUNG Program Jakarta BARU!!!

    Reply

Leave a Reply