KEADILAN     UNTUK     RAKYAT                 BERSIH     TRANSPARAN     PROFESIONAL    
Home » BERITA, NEWS, Tentang Ahok » Basuki Itu Bukan Bapak Banget

img_9034-icaBTP – Kurnia Sari Azizah (Icha) adalah salah satu jurnalis yang saya kenal sejak saya bekerja di Balai Kota DKI Jakarta, Jumat sore 31 Juli 2020, Icha kembali kehadiratNya karena penyakit yang dideritanya, berikut ini adalah tulisan Icha di buku “Ahok Di Mata Mereka”, dengan judul “Basuki Itu Bukan Bapak Banget”.

Saya merasa menjadi orang yang beruntung karena dapat menjadi saksi sejarah, dengan pernah mengikuti  kegiatan Basuki Tjahaja Purnama atau yang lebih dikenal dengan panggilan Pak Ahok. Ya, saya adalah Icha, seorang wartawan yang bekerja di sebuah media online swasta, Kompas.com. Saya ditugaskan di kanal Megapolitan, lebih tepatnya di Balai Kota DKI Jakarta.

Saya mulai meliput kegiatan Balai Kota DKI Jakarta saat kontestasi Pilkada DKI Jakarta 2012 dimulai, atau sekitar Maret 2012. Selain meliput kegiatan Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo dan Pemprov DKI Jakarta, tak jarang saya diminta kantor untuk meliput kegiatan calon gubernur-wakil gubernur DKI lainnya.

Saat itu, Pak Fauzi atau Foke sebagai petahana berpasangan dengan Nachrowi Ramli. Kemudian ada pasangan Hendardji Soepandji-Riza Ahmad Patria, Alex Noerdin-Nono Sampono, Hidayat Nur Wahid-Didik J. Rachbini, Faisal Basri-Biem Benyamin, dan Joko Widodo-Ahok. 7 Juni 2012, saya pertama kali berkesempatan meliput kegiatan kampanye Pak Ahok. Saat meliput, saya tidak menyangka kalau orang ini akan “mengguncang” Indonesia bahkan dunia. Ahahaha…

Saat itu, Pak Ahok yang mengenakan kemeja kotak-kotak berkampanye di kawasan Meruya Ilir, Kembangan, Jakarta Barat. Dia bersama beberapa tim suksesnya menghampiri warga setempat satu persatu. Ahok menjelaskan berbagai rencana kebijakan yang akan dilaksanakannya bersama Jokowi jika kelak menjadi Gubernur-wakil gubernur DKI Jakarta, kepada warga yang mengerumuni dirinya. Ahok juga mendengar keluhan warga setempat. Sembari menjelaskan program, tim kampanyenya membagikan brosur dan koran bergambar Jokowi-Ahok.

Selesai mengobrol, Ahok membagi-bagikan kartu nama kepada warga. “Ini ada nomor HP saya, Bu. SMS saja kalau ada apa-apa,” kata Ahok saat itu.

Warga terlihat tersenyum, namun juga keheranan. Tak hanya warga, saya pun bingung mengapa calon pemimpin Jakarta ini memberi kartu nama. Sebab biasanya orangorang yang tengah mengikuti pemilu, kerap memberi warga iming-iming sembako atau uang tunai. Benar saja, tak sedikit warga yang merasa kecewa setelah Ahok pergi dari lingkungan tempat tinggal mereka. Kekecewaan itu disebabkan karena mereka hanya diberikan kartu nama oleh Ahok. Mereka berharap, Ahok dapat memberi “amplop”, beras, atau paket sembako.

Saya masih ingat betul jawaban Ahok saat ditanya wartawan mengenai alasannya tak memberi uang atau sembako kepada warga. Saat itu, Ahok mengatakan, jika ingin memilih pejabat itu harus orang yang bisa dihubungi seumur hidup. Makanya, ia lebih memilih memberikan kartu nama dibanding uang atau sembako.

“Misalnya saat orang minta duit, baju, sembako, kami tegas-tegas bilang tidak ke mereka. Saat mereka mengancam nanti tidak akan pilih, ya itu risiko,” kata dia.

Saat berkampanye Pilkada DKI Jakarta 2012, Ahok juga membawa konsep “pemimpin adalah pelayan rakyat”. Konsep pelayan rakyat itu juga dibawa Ahok saat berkampanye bersama Djarot Saiful Hidayat pada Pilkada DKI Jakarta 2017.

“Jakarta perlu kami taklukkan karena Jakarta ini pusatnya informasi, semua cepat, semua orang bisa tahu. Kalah pun, saya puas, karena setidaknya saya pernah tawarkan konsep pemimpin adalah pelayan masyarakat,” kata Ahok mengakhiri kampanyenya di Meruya Ilir saat itu.

Sepanjang perjalanan pulang, saya sempat berpikir, Jokowi-Ahok tak akan dipilih warga. Karena mereka “pelit” kepada warga saat kampanye. Namun, prediksi saya meleset.

Pasangan Jokowi-Ahok berhasil melaju ke putaran kedua Pilkada DKI Jakarta 2012 bersama petahana, Foke-Nara. Berdasarkan penghitungan suara keseluruhan, pasangan Jokowi-Ahok meraup suara sebanyak 1.847.157 atau sebesar 42,60 persen. Pasangan Foke-Nara yang dijagokan menang satu putaran harus puas di posisi kedua dengan jumlah suara 1.476.648 atau sebesar 34,05 persen.

Setelah itu, kantor jarang memerintahkan saya meliput kegiatan Ahok. Saya lebih banyak diminta meliput kegiatan petahana. Saya kembali meliput kegiatan Ahok saat mengikuti debat kandidat terakhir di sebuah stasiun televisi swasta di kawasan Kedoya, Jakarta Barat, dan beberapa diskusi. Hingga akhirnya, Jokowi-Ahok kembali memenangkan putaran kedua kontestasi Pilkada DKI Jakarta 2012.

Jujur, saat mengetahui Foke kalah oleh Jokowi-Ahok, saya sedih. Terlebih, Foke menunjukkan sikap ksatrianya saat kalah dengan langsung menelepon Jokowi sebagai gubernur terpilih saat itu. Saat pengumuman hasil hitung cepat putaran kedua Pilkada DKI Jakarta 2012, saya meliput di rumah pemenangan Foke-Nara yang terletak di Jalan Diponegoro, samping Bioskop Megaria. Saat itu, tak hanya tim sukses dan pendukung, wartawan yang biasa bertugas di Balai Kota juga sedih menerima keadaan itu. Kesedihan semakin terasa ketika arak-arakan pendukung JokowiAhok bersorak sorai dan berteriak ketika melewati posko pemenangan Foke-Nara. Kebetulan, posko pemenangan Jokowi-Ahok juga berlokasi di Jalan Diponegoro, yang kini menjadi kantor DPP PDI Perjuangan. Sempat terbersit dalam pikiran saya, “Ah.. Apa Jokowi-Ahok juga bisa bekerjasama baik dengan wartawan, seperti yang dilakukan Pak Foke kepada wartawan Balai Kota selama ini?”.

Kita Harus Move On
Oke, kita harus move on.. Jangan sampai ada perasaan berlebih dari wartawan kepada narasumbernya, karena hal ini akan berdampak pada pemberitaan. Pada akhirnya, 15 Oktober 2012, Menteri Dalam Negeri Gamawan Fauzi resmi melantik Jokowi dan Ahok sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta periode 2012-2017. Suasana saat peresmian sangat ramai oleh masyarakat sekitar dan pendukung. Belum pernah saya melihat Balai Kota dan gedung DPRD DKI seramai ini he-he-he.. sampai-sampai, wartawan pun mesti berdesak-desakan dengan masyarakat agar dapat mewawancarai Jokowi-Ahok.

Awal-awal Jokowi-Ahok menjabat atau sekitar 100 hari pemerintahan, saya diminta kantor untuk mengikuti kegiatan Jokowi. Di hari pertamanya, Jokowi langsung “blusukan” ke beberapa tempat. Seperti pasar, pintu air, hingga rumah susun. Saat itu, saya pikir, Jokowi lah yang akan menguasai berbagai pemberitaan di ibukota. Ternyata, Ahok yang ditugaskan Jokowi mengawasi jalannya pemerintahan dan birokrasi dari kantornya di Balai Kota, sudah membuat gebrakan. Dia memarahi stafnya yang bernama Iqbal, karena mencatat hal penting di rapat dengan tulisan tangan.

Padahal, saat itu, ada laptop di depan Iqbal. Ahok yang tengah rapat bersama perwakilan buruh itu langsung memarahi Iqbal yang ditugaskan menjadi notulen. Kemarahan Ahok di rapat ini langsung menjadi headline di hampir semua pemberitaan media massa. Aksinya ini menarik perhatian masyarakat. Tak terkecuali, pembaca Kompas.com yang selalu menunggu berita Ahok dan berita mantan Bupati Belitung Timur itu selalu bertengger di indeks terpopuler.

Lambat laun, saya merasa meliput Jokowi hanya mendapat capeknya saja. Saya pun meminta kepada kantor untuk dapat meliput kegiatan Ahok dan ada teman pengganti saya yang meliput kegiatan Jokowi. Saya merasa, jawaban Ahok lebih “ngelead” dibanding jawaban Jokowi ketika diwawancara. Ahok juga tak jarang membocorkan beberapa hal penting kepada wartawan, seperti pejabat yang akan diganti, isu politik, dan lain-lain.

Hal-hal inilah yang membuat wartawan senang mewawancarai Ahok. Yaaa…. meskipun Ahok tak akan menghentikan bicaranya sebelum diberi tanda oleh Sunny atau Sakti, staf yang selalu berdiri di belakangnya. Beberapa media online pun menempatkan wartawan yang khusus meliput kegiatan Ahok. Meskipun sebagian besar kegiatannya saat menjabat Wakil Gubernur, sebagian besar dilakukan di kantor. Sedangkan stasiun televisi yang menempatkan reporternya untuk meliput Ahok saat itu hanya Metro TV.

Ahok pertama kali mengenal dan mengetahui nama saya, saat saya diminta kantor untuk wawancara khusus dengan mantan anggota Komisi II DPR RI tersebut. 24 Mei 2013 adalah hari yang tak dapat saya lupakan. Karena saat itu, saya berhasil mewawancarai Jokowi dan Ahok secara khusus. Saya mewawancarai mereka secara santai mengenai Kompas.com. Kebetulan, Kompas.com berulang tahun setiap tanggal 29 Mei dan reporter di lapangan ditugaskan meminta komentar para tokoh mengenai media online tersebut. Pertama kali mewawancarai Jokowi dan Ahok secara khusus, saya mengetahui bahwa mereka adalah pejabat yang baik, humble, dan tak menjaga jarak dengan wartawan.

Saat mewawancarai Ahok, dia menanyakan nama saya. “Oh.. Kurnia Sari Aziza, panggilannya siapa? Oh Icha.. Yang sering bikin berita tentang gue ya,” kata Ahok saat itu. Sejak itu, Ahok mengenal saya (tidak tahu sampai sekarang apa tidak). Hal ini merupakan langkah awal untuk menjalin hubungan yang baik dengan narasumber.

Saya dan beberapa wartawan lainnya tak pernah merasa kekurangan ketika meliput Ahok. Saat menjadi Wakil Gubernur, Ahok menyisihkan uang operasionalnya untuk memberi makan siang dan malam bagi wartawan. Sebagai seorang wartawan, saya melihat Ahok sebagai seorang pejabat yang sangat menghargai waktu.

Dia selalu tiba di Balai Kota sekitar pukul 07.30-08.00. Ketepatan waktu yang dijunjung Ahok membuat wartawan untuk juga dapat bangun pagi. Tak hanya datang pagi, Ahok juga dapat dikatakan pekerja keras. Bagaimana tidak, seorang wakil gubernur yang dianggap tugasnya hanya menandatangani disposisi itu kerap pulang setelah pukul 21.00. Sambil harap-harap cemas, wartawan peliput kegiatan Ahok selalu menunggu dengan muka yang lusuh di ruang tengah lantai 2 Balai Kota DKI Jakarta. Namun penantian itu biasanya disambut Ahok dengan jawaban yang memuaskan.

Tak jarang, Ahok mengajak wartawan untuk masuk ke dalam ruang kerjanya untuk mewawancarai dirinya. Bahkan, Ahok juga tak jarang mengajak wartawan makan bareng di ruang kerjanya. Mulai dari makan duren, makan es krim Haagen Dasz, hingga makan siang atau makan malam bareng. Ahok juga kerap menawarkan berbagai hidangan dan buah yang tersedia di meja kerjanya. Buah yang selalu ada di meja kerjanya adalah pisang, papaya, anggur, dan manggis. Saat itu, saya merasa tak ada jarak antara wartawan dengan narasumbernya.

Selain itu, saya memandang, Ahok adalah seorang yang perhatian terhadap detail. Dia mengetahui jika ada wartawannya yang tengah hamil atau mengandung. Selain mendoakan si jabang bayi, Ahok juga menyajikan hidangan special bagi para “bumil” itu. Ahok menyajikan salmon, jika ada wartawan yang sedang hamil. Kata Ahok, salmon ini nutrisinya baik untuk kesehatan si ibu dan si jabang bayi. Eits….. bukan berarti kami sebagai wartawan terlena dengan treatment yang diberikan Ahok. Wartawan tetap memberitakan sesuai fakta yang ada di lapangan. Saya pun tak jarang dimarahi Ahok karena pemberitaan. Hanya saja, kemarahan Ahok itu kerap diungkapkannya sambil tertawa. Jadi, saya santai saja menanggapinya. Toh, bukan Ahok yang menggaji saya.

Ada hal lain yang membuat saya menyebut Ahok sebagai seorang yang perhatian. Ceritanya, saat itu, Ahok mengajak wartawan untuk mewawancarainya di dalam ruang kerjanya. Ahok mencoba menjawab pertanyaan wartawan sambil menandatangani seabrek nota disposisi. Saat itu, kebetulan saya berdiri di samping Ahok dan mengajukan pertanyaan. Belum menjawab pertanyaan saya, Ahok justru bertanya mengenai keadaan saya. “Lo pilek ya? Suara lo bindeng tuh,”. “Waduh.. Tahu aja Pak,” gumam saya dalam hati. Kemudian Ahok langsung membungkukkan badannya sambil membuka laci meja kerjanya. Tak disangka, Ahok memberikan beberapa sachet Tolak Angin, vitamin Imboost, dan sebotol Aqua Sparkling, kepada saya. Waah.. Saya merasa senang atas perhatian itu. Makasih ya, Pak….

Penyayang Binatang
Di balik sifatnya yang galak, Ahok ternyata seorang penyayang binatang. Di ruang kerjanya, dia memelihara beberapa burung dan ikan. Sedangkan di rumahnya, dia memelihara seekor anjing yang diberi nama “Cookie”. Namun, ada satu hal yang menarik perhatian saya. Saat memimpin rapat di ruang TPUT, Ahok sempat keluar dari ruangan tersebut dan menuju pantry. Ternyata, dia terusik karena ada kucing yang terus mengeong di atas atap.

Ia sengaja keluar rapat dan memastikan si kucing dapat diselamatkan dengan baik. Yang paling saya ingat, saat itu, Ahok meminta office boy untuk tidak memukul si kucing, bahkan jika bisa dipelihara.

Banyak hal seru yang dilakukan Ahok saat menjadi Wakil Gubernur bersama wartawan. Selain sering mengajak makan bersama di ruang kerjanya maupun di restoran, Ahok juga tak jarang mengajak wartawan ke rumah pribadinya, di Kompleks Pantai Mutiara, Jakarta Utara. Wartawan selalu disajikan berbagai hidangan yang jumlahnya tak sedikit. Bahkan, wartawan diperbolehkan membawa makanan ringan yang ada di rumahnya.

Wartawan juga berkesempatan ke Manggar dan Gantong, Belitung Timur, kampong halaman Ahok. Di sana, kami diajak ke lokasi wisata Belitung, seperti pantai Tanjung Kelayang, sekolah Laskar Pelangi, Museum Kata Andrea Hirata, hingga pantai pribadi milik keluarga Ahok. Wartawan juga dikenalkan kepada keluarga Ahok, seperti adiknya yang bernama Basuri, yang bicaranya sama panjangnya seperti Ahok. Di sana, kami tinggal di rumah Ahok di Gantong, di bagian belakang ada beberapa kamar yang dijadikan hotel.

Namun, tak sembarangan orang bisa menginap di hotel itu. Kami juga disajikan berbagai hidangan, mulai dari seafood hingga durian. Saat Ahok masih menjabat Wakil Gubernur pula, tiap tahunnya ketika saya ulang tahun, saya selalu dibelikan kue tart. Kemudian, kami makan barengbareng kue tart itu di dalam ruang kerja Ahok. Doanya kepada saya pun sama, agar saya cepat-cepat berkeluarga. He-he-he.. Oh iya, ada satu pengalaman lagi yang tak saya lupakan bersama Ahok.

Jadi ceritanya, saya memberitakan Ahok yang memarahi beberapa pejabat SKPD DKI Jakarta karena dianggap menghambat hibah bus tingkat wisata. Nah…. salah seorang pejabat yang kena marah, Endang Widjajanti, yang saat itu menjabat Kepala Badan Pengelola Keuangan Daerah (BPKD) DKI, merasa tersinggung dengan berita saya. Padahal, saya memberitakan sesuai fakta yang saya lihat dalam rapat tersebut. Singkat cerita, Ahok menerima disposisi dari Endang dan bermaksud ingin mensomasi saya. Kemudian, sambil tertawa, Ahok menyampaikan hal tersebut kepada saya. Sedangkan, saya pribadi merasa deg-degan. “Gue tandatangan tidak nih (disposisinya)?” Tanya Ahok. Lantas saya menggeleng dan meminta Ahok untuk tak merespon permintaan Endang tersebut. Alhamdulillah, Ahok mengikuti permintaan saya dengan tidak merespon disposisi tersebut. Wah, saya benar-benar tak bisa melupakan berbagai keseruan saat Ahok menjabat Wakil Gubernur.

Setelah Jokowi menjadi Presiden Republik Indonesia, Ahok menjadi pusat perhatian. Sebelumnya, Jokowi lah yang menjadi pusat perhatian dibandingkan dengan Ahok. Ruang kerjanya juga pindah dari lantai 2 ke lantai 1. Tak ada yang berubah dari pribadi Ahok. Mulai dari sifatnya yang menghargai waktu, tak pernah terlambat ketika masuk kerja, selalu pulang malam, hingga melayani aduan warga yang datang kepadanya. Bedanya, wartawan tak sesering dulu dapat wawancara di ruang kerjanya.

Pengalaman yang tak saya lupakan ketika Ahok menjabat gubernur, adalah menyempatkan waktunya untuk menghadiri pernikahan adik saya, Sagita. Waktu itu, saya mengundang Ahok, Wakil Gubernur Djarot Saiful Hidayat, Sekretaris Daerah DKI Jakarta Saefullah, dan Sandiaga Uno. Dari semua pejabat, hanya Pak Ahok yang berkenan hadir. Padahal, Pak Saefullah dan Pak Sandiaga juga berjanji, bahkan memastikan hadir ke pernikahan adik saya. Kehadiran Ahok membuat heboh suasana pernikahan adik saya. Tamu berebut berfoto dengan Ahok. Makasih ya, Pak. Walaupun saat itu keki juga saya dengar omongan Bapak, “Tumben lu mandi, Cha,” kata Ahok diikuti tawa para ajudannya. Hmm.. tidak apa-apa, Pak. Yang penting, saya jadi tahu, Ahok orang yang menghargai undangan warga biasa, seperti saya.

Saat menjadi Gubernur, warga yang datang kepadanya untuk mengadu semakin membeludak dibanding saat dirinya menjabat Wakil Gubernur. Wartawan harus menunggu sekitar 2 jam dari pukul 07.30 untuk dapat bisa mewawancarai Ahok. Ahok melayani aduan dan permintaan foto bersama warga terlebih dahulu.

Satu hal yang bikin salut, dia begitu cepat memahami persoalan warga ketika mengadu di Balai Kota. Hanya dengan membaca scanning, Ahok langsung memanggil stafnya untuk menindaklanjuti permasalahan warga tersebut. Ia juga dengan cepat dapat membaca karakter warga. Apakah warga itu benar-benar kesulitan atau ingin berbuat curang.

Ahok Menjadi Basuki
Namun, sifat blak-blakan yang kerap ditunjukkan Ahok tak lagi muncul ketika isu dugaan penodaan agama dan kontestasi Pilkada DKI Jakarta 2017 mencuat. Sebuah pernyataan yang diucapkan Ahok saat melakukan kunjungan ke Kepulauan Seribu berdampak sangat besar terhadap kondisi politik di Indonesia. Terlebih, saat itu bertepatan dengan Pilkada DKI Jakarta 2017. Ahok lebih hati-hati dalam menjawab pertanyaan wartawan. Bahkan, dia mencoba belajar kesantunan dan memperkenalkan diri sebagai “Basuki”. Ahok tampil dengan bahasa yang lebih santun dan kadang mengucap bahasa Jawa. Ah, Pak.. Basuki itu bukan Bapak banget. Saya lebih senang dengan Ahok yang begitu menggebu-gebu ketika tahu ada yang tidak benar di depannya, Ahok yang tak mau kalah menyerang Lulung, Ahok yang berani memarahi Badan Pemeriksa Keuangan (BPK), pokoknya Ahok yang tampil apa adanya. Sayangnya saya hanya sebagian kecil yang dapat menerima Ahok, bukan “Basuki”.

Sekarang, Ahok sudah kalah pada pemilihan gubernur dan juga memilih menjalani hukuman kurungan penjara selama dua tahun karena dugaan penodaan agama. Tetap semangat ya, Pak.

Saya itu sebenarnya sedih saat tahu Bapak dan Pak Djarot kalah pada Pilkada DKI Jakarta 2017. Kesedihan saya bertambah ketika Bapak divonis dua tahun penjara. Karena menurut saya, soal penodaan agama hanya Allah SWT yang berhak menilai, bukan manusia. Tapi, saya gengsi mengungkapkan kesedihan saya, Pak.

Pertemuan terakhir saya dengan Ahok adalah Rabu, 3 Mei 2017. Saat itu, saya berpamitan karena dipindahtugaskan ke desk ekonomi. Ahok meminta kepada saya mempengaruhi para petinggi ekonomi untuk mengundangnya ke berbagai seminar. Ahok juga bercerita keinginannya membuat “Ahok Show” tayang di televisi dan keinginannya menjadi konglomerat di bidang tambang. Saya tak menyangka, pertemuan itu yang terakhir dengan Ahok di Balai Kota. Enam hari setelahnya, Ahok harus mendekam di penjara. Sekali lagi, tetap semangat, Pak.

Semoga keikhlasan yang dijalani berbuah purnama yang semakin membuat tjahaja di Indonesia bahkan dunia. Eyaaakk.. …Makasih, Pak.  [Kurnia Sari Aziza/Ahok Di Mata Mereka]

  • Share/Bookmark

No comments yet... Be the first to leave a reply!

Leave a Reply