KEADILAN     UNTUK     RAKYAT                 BERSIH     TRANSPARAN     PROFESIONAL    
Home » BERITA, NEWS, Sudut BTP, TENTANG JAKARTA » Basuki, Laskar Pelangi di Belantara Jakarta

Ahok.Org – Basuki Tjahaja Purnama (46) punya pembawaan yang hangat dan cepat akrab. Gaya bicaranya cepat dan ceplas-ceplos apa adanya. Suaranya meninggi jika berbicara tentang ketidakadilan. Pria kelahiran Belitung Timur, kampung asal Laskar Pelangi, ini menjadi salah satu calon wakil gubernur dalam Pilkada Jakarta 2012 bersama pasangannya, Joko Widodo, yang akrab disapa Jokowi.

Basuki yang akrab disapa Ahok ini pernah berniat maju lewat jalur perseorangan, tetapi kartu tanda penduduk (KTP) yang terkumpul tidak mencukupi batas minimal. Pada awal tahun 2012, dia sempat memupus impian untuk dapat bertarung di Pemilihan Gubernur DKI Jakarta.

Sampailah Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) mengusungnya menjadi wakil gubernur berpasangan dengan Joko Widodo dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan. Politisi yang semula menjadi anggota Komisi II DPR dari Partai Golkar ini pun langsung mengundurkan diri sebagai anggota DPR, tanpa memikirkan risiko kehilangan jabatan apabila kalah dalam pertarungan.

Ahok mengawali karier politiknya tahun 2004 dengan terdaftar sebagai anggota Partai Perhimpunan Indonesia Baru (PIB). Partai minoritas di Belitung Timur ini juga yang mengantarnya menjadi anggota DPRD Belitung Timur pada 2004-2009 dan Bupati Belitung Timur tahun 2005-2010. Ia menjadi bupati pertama dari kelompok etnis Tionghoa di sana.

Tahun 2007 ia gagal dalam Pemilihan Gubernur Bangka Belitung. Namun, pada pemilu legislatif 2009, dia berhasil meluaskan karier politiknya ke tingkat nasional, yaitu menjadi anggota DPR dari Partai Golkar.

Perjalanan politiknya yang kerap berpindah-pindah partai membuat sebagian orang mencibirnya sebagai ”kutu loncat”. Namun, Ahok memiliki pertimbangan lain. ”Loyalitas saya ke masyarakat,” tuturnya.

Hal itu dibuktikannya dalam Pemilihan Gubernur Bangka Belitung. Meski kalah, sebanyak 63 persen pemilih di Belitung Timur memilih dirinya. Pada Pemilu DPR 2009 saat maju sebagai calon legislator dari Partai Golkar, meski awalnya ditempatkan pada nomor urut keempat dalam daftar calon, ia berhasil mendapatkan suara terbanyak.

Di tengah perjalanan politiknya yang berpindah-pindah partai, Ahok selalu menyimpan sebuah ambisi. Dia ingin memajukan masyarakat lewat slogan andalannya: membuat masyarakat penuh otak, perut, dan dompet.

Cita-cita keadilan sosial

Ahok lahir dari keluarga berada. Ayahnya, Indra Tjahaja Purnama, adalah kontraktor kenamaan yang juga dikenal dermawan. Tidak heran, banyak orang yang sedang terbelit kesulitan datang ke rumah mereka untuk meminta bantuan. Namun, ayahandanya itu juga yang mendorong Ahok menjadi politisi.

”Orang kaya bisa membantu orang miskin dengan memberikan bantuan, tetapi seberapa banyak? Beda kalau sebagai kepala daerah bisa membuat kebijakan yang menolong semua orang. Inilah bedanya bantuan sosial dan keadilan sosial,” katanya.

Ahok juga dikenal sebagai tokoh antikorupsi, seperti juga pasangannya, Joko Widodo. Gerakan Tiga Pilar Kemitraan yang terdiri dari Kadin, Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara, dan Masyarakat Transparansi Indonesia menobatkan dirinya sebagai tokoh antikorupsi dari penyelenggara negara.

Pengalamannya sebagai pengusaha, menjalankan sebuah lembaga swadaya masyarakat di Jakarta, dan memimpin daerah, membuat Ahok mengetahui persis permainan anggaran di setiap level. Ini pula yang membuat dirinya sering berhadapan dengan orang lain yang merasa terusik. Di DPR, Ahok, misalnya, mengeluarkan buku berisi laporan keuangan dirinya selama berada di Komisi II DPR. Dia juga tergolong orang yang menolak perjalanan dinas.

Lewat situsnya, www.ahok.org, pria berperawakan tinggi besar ini juga terus mengumumkan harta kekayaan maupun honorarium dirinya sebagai pejabat publik. ”Saya juga akan terus membuka laporan pendapatan dan pengeluaran gubernur dan wakil gubernur DKI setelah nanti terpilih di website saya,” katanya.

Lima prioritas

Seandainya terpilih dalam Pilkada DKI, ada lima hal yang akan diprioritaskan Ahok. Kelima hal itu adalah menyediakan pendidikan yang terjangkau, pelayanan kesehatan, transportasi murah, pensiun, dan penciptaan perumahan yang layak.

Untuk urusan kesehatan, Ahok melihat perlu adanya sebuah pelayanan kesehatan yang standar bagi seluruh warga. Warga lanjut usia juga perlu mendapatkan pelayanan pensiun. Hal ini diupayakan dengan membayar asuransi tahunan yang biayanya tidak memberatkan.

Akses jalan di Jakarta juga perlu terus dibangun untuk meningkatkan kehidupan. Dia sepakat perlu ada jalan tol akses menuju Tanjung Priok serta di pinggir Jakarta. Namun, dia tidak setuju dengan pembangunan jalan tol di tengah kota.

Terkait masalah perumahan, dia akan mendorong pembangunan superblok yang memiliki berbagai fungsi, yakni pasar, tempat aktivitas pemuda, puskesmas, dan hunian vertikal. Dengan begitu, kebutuhan masyarakat untuk melakukan perjalanan bisa dikurangi. Pasar yang dibangun pemerintah juga akan berkembang dan bisa membuat penuh ”dompet” warga sekitar.

Keberadaan perumahan vertikal ini juga menjadi solusi mencegah Jakarta kumuh. Pemerintah, menurut Ahok, berhak menindak warga yang tetap ”bandel” jika sudah ada solusi yang disediakan. Setelah perumahan vertikal disediakan, lingkungan kumuh harus dibersihkan.

Ahok melihat Jakarta sesungguhnya memiliki potensi besar, baik dari sisi sumber daya manusia, infrastruktur, maupun fiskal. Potensi ini seharusnya memudahkan pembangunan kota. Dia mencontohkan keberadaan sarjana psikologi dan dokter dari berbagai universitas di Jakarta yang bisa difasilitasi untuk memberikan pendampingan kepada warga yang membutuhkan.

Ahok menyadari posisinya sebagai orang dari kelompok etnis Tionghoa merupakan minoritas. Namun, dia yakin sepenuhnya mayoritas pemilih di Jakarta ingin dipimpin oleh orang dengan karakter teruji dan itu sudah dibuktikannya bersama Jokowi. ”Moto saya BTP, bersih, transparan, profesional,” kata Ahok dalam banyak kesempatan.

Dia yakin, duet dirinya dengan Jokowi akan meningkatkan kualitas hidup warga Jakarta jauh lebih baik. ”Kalau ada orang yang lebih baik, saya akan mundur,” kata Ahok sambil tersenyum.[Kandidat – Kompas]

  • Share/Bookmark

No comments yet... Be the first to leave a reply!

Leave a Reply