Pemprov Fokus pada Normalisasi Tiga Kali Besar

1
77

Ahok.Org – Untuk mengurangi banjir, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta berkonsentrasi melakukan normalisasi di tiga kali besar di wilayah ibu kota negara Indonesia ini.

“Semua akan dinormalisasi, tetapi konsentrasi awal untuk kali besar di Pesanggrahan, Angke, dan Sunter,” kata Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo di Jalan Raya Kedoya, Pesing Koneng RT 09 RW 08, Kedoya Utara, Kebon Jeruk, Jakarta Barat, Sabtu (5/1/2013).

Ia melanjutkan, dalam rangka normalisasi tersebut, Pemprov DKI akan fokus pada pengerjaan pembebasan tanah. Saat ini sudah ada sebagian tanah yang masuk pada inventarisasi agar cepat selesai. Jika pembebasan tanah rampung dengan cepat, pembangunan dapat segera dilaksanakan.

Normalisasi dengan membangun tanggul di kali-kali besar, kata Jokowi, dapat mengurangi banjir di wilayah Jakarta. Akan tetapi, pembangunan tanggul dan normalisasi tidak dapat dilaksanakan dengan cepat karena tersendat pembebasan tanah dan terbatasnya pekerja. “Kalau hitungan tematik, kan, dalam setahun kita hanya bisa betulkan 8-12 kali, sedangkan di Jakarta terdapat 78 titik banjir,” kata Jokowi.

Ia menambahkan, 78 titik itu belum termasuk penambahan titik banjir setiap tahunnya. Setiap tahun, titik banjir pasti terus bertambah sehingga membutuhkan terobosan-terobosan. “Tangkapan air jadi mal dan rumah. Makanya titik banjir terus bertambah setiap tahunnya,” ungkap Jokowi.

Sebelumnya, Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo memantau tanggul kali Sekertaris, RT 5 RW 2 kampung Guji Baru, Duri Kepa, Kebon Jeruk, Jakarta Barat. Pantauan ini dilakukan dalam tahap normalisasi kali yang didirikan tanggul untuk mencegah banjir.[Kompas]

Berita Lainnya:

1 COMMENT

  1. Wah direspon dgn baik komen/’sindiran’ ane soal solusi tanggul kali ame pak Jow nieh.. 😀 (agar dilanjutkan drpd ditunda2 kelamaan ga jelas, cuma sekedar ngingetin si boz lagi ajeh :)).

    ga papa boz JoW!
    pelan tapi pasti, dah ga salah ituh!
    yg penting dikerjain serius, bukan wacana ajeh, pasti akan terlihat hasilnya nanti.
    setidaknya solusi tanggul kali ini masih lebih murah dan bisa dilakukan scr bertahap dan bisa berfungsi segment tanggul yg jadi tsb scr penuh shg bisa dirasakan warga sekitar tanggul tsb scr langsung keuntungannya (bandingkan dgn Deep Tunnel yg harus jadi semua dulu baru bisa berfungsi penuh 100%, shg tak bisa bertahap dirasakan keuntungannya – apalgi jika semua persoalan banjir jakarta cuma dibebankan pada solusi Deep Tunnel sendiri, bisa semaput nanti boz!).

    Solusi ane saat ini dipikiran ane baru cuma duwa (dan lebih kpd pesan yg mengingatkan/reminder kpd pak JoW agar dicermati/dikaji lagi solusi2 yg juga pernah disarankan sejak dulu oleh orang lain tapi mungkin agak kurang diperhatikan krn mungkin akibat kurangnya penjelasan yg memadai/’membumi’ atas solusi teknis tsb, nah itu yg coba ane jelasin lagi disini agar lebih mudah dipahami scr awam, di ahok.org):
    1. Solusi tanggul kali utk mengatasi persoalan banjir akibat sumbangan air dari kali2 besar di jakarta yg sering meluap airnya ketika musim banjir tiba, yg sering disebut “AIR BAH” (kalo asalnya jelas dari daerah laen sering disebut: “BANJIR KIRIMAN dari ….”). Output buwangannya menuju laut (sea), baik scr langsung (normal river) ato tidak langsung (via water channels + water reservoir + water pump system).
    2. Solusi sumur resapan (air hujan) utk mengatasi persoalan banjir akibat sumbangan air dari Sang Pencipta langsung dari atas kepala, yg kita sebut “AIR HUJAN”. Output buwanganya menuju ke dalam tanah (underground), biasanya dgn membuwat sumur2 bor yg berfungsi sbg pori2 tanah agar air hujan bisa masuk ke ‘waduk bawah tanah raksasa’ (aquifer) di bawah tanah dgn mudah.
    Menyerap sebagian limpahan air hujan di atas tanah dan mengisi kekosongan air tanah dibawahnya (2-in-1 effect).

    Jadi persoalan banjir di jakarta ini solusinya dgn cara penyebaran beban sesuai masalah di lapangan, bukan apa yg terlihat dilapangan saja. Krn ane yakin banjir2 sporadis spt di Sudirman-Thamrin lalu kadang juga efek dari limpahan air kali dan banjir kiriman dgn jeda waktu dari kali2 besar disekitarnya, selain kurangnya jumlah sumur2 resapan yg ada (seharusnya jika wilayah tsb makin berpotensi utk tergenang akibat hujan besar setempat sesuai pengamatan yg cermat, maka harus dibuwat lebih banyak lagi sumur2 bor resapan air hujan ini ato “more dense” dari tingkat kepadatan sebaran pori2 tanah ini, selain tentunya pembersihan dan pelebaran gorong2/saluran2 air juga tetap dilakukan agar bisa mambagi beban penyerapan air ini menuju ke laut juga, tak hanya ke dalam tanah saja).

    jadi kedua solusi diatas berfungsi utk membantu menanggung beban dari fungsi saluran2 air yg sudah ada di jakarta, dgn cara mereka sendiri (yg satu menangkal luapan air kali berlebih baik dari setempat maupun kiriman dgn tanggul, dan satunya lagi menangkal genangan air setempat akibat hujan setempat dgn pori2 tanah), shg tidak masuk semua ke saluran2 air yg ada yg kurang lebar/dalam tsb – dibagi2 bebannya gituloh (shg potensi gagal juga terbagi, jika satu gagal, yg lain masih bisa berfungsi dgn baik), tidak semuanya disatukan ke satu solusi saja (spt Deep/SMART Tunnel ini), bisa berbahaya loh kalo gagal!

    Tapi sptnya pak JoW sudah back on track, dah nyadar saat ini mana yg harus diprioritaskan dulu dgn anggaran yg ada (bisa kerjasama dgn swasta klo masih kurang dananya, misal kompensasinya boleh pasang baliho iklan di pinggir kali dekat tanggul tsb yg mungkin dilewati jalan raya/jembatan yg melintasi tanggul, utk pori2 tanah warga masih bisa swaday koq pak, don’t worry! bikin aja di lingkungan pemda, taman2, ato tanah2 milik pemda dulu, misal bikin porinya di kebon Kelurahan dan koneksi saluran air dari talang aernya spt apa, sbg proyek percontohan bagi warga agar bisa mencontoh dgn benar caranya),
    So, good Luck, Mr. JoW!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here