KEADILAN     UNTUK     RAKYAT                 BERSIH     TRANSPARAN     PROFESIONAL    
Home » Baleg, BERITA » Laporan Perjalanan Badan Legislasi DPR RI

(20/10)—Hari Senin, 18 Oktober 2010, Kami dari Tim Badan Legislasi dijadwalkan berangkat pagi hari menuju Manila, filipina dengan menggunakan Singapore Airlines. Dalam rangka kunjungan kerja Badan Legislasi.

Mengapa Singapore Airlines? Mengapa tidak menggunakan philippine airlines ke Filipina ?

Alasan utamanya adalah karena  jadwal jam penerbangannya yang kurang nyaman, berangkat pukul satu dinihari tiba pukul enam  pagi waktu Manila, ada lagi yang jam 14.30 dari Jakarta, transit di singapore, lalu baru akan tiba di Manila pukul 22.00 malam waktu setempat.
Oleh karena itu akhirnya diputuskan naik Singapore Airlines, akibatnya tidak bisa naik kelas bisnis, berhubung jatah tiket perjalanan kami hanya dianggarkan untuk kelas bisnis di philippine airlines. Karena itu akhirnya kami menggunakan penerbangan Singapore Airlines kelas ekonomi.

Pukul 17:36:07 (waktu Manila) kami tiba di Manila, satu pesawat dengan Duta Besar kita di Manila Pak Kristianto. Kami berbincang dengan beliau di ruang VVIP hingga sekitar pukul 17:57:52.
Kami banyak bercerita soal OFW (Overseas Fhilipinos Workers) yang mencapai 10% penduduk (9-10 juta orang) dan memberi sumbangan 10 %  terhadap GDP mereka. Besarnya sumbangan tersebut adalah dari tingginya kiriman  “remittance” yang dihasilkan, mereka dilayani dan dihargai oleh pemerintahnya, dan pekerja sebagai pembantu dianggap sebagai profesi.

Elite politik seperti Gubernur juga saling bergantian diisi oleh keluarga penguasa, mungkin karena mereka munguasai sumber daya? Setelah urusan bagasi dan imigrasi diatur, kami berangkat menuju restoran zamboanga di pusat kota Manila  untuk makan malam. Saat ini hidangan telah tersedia pada pukul 19.02.29

Di restoran tempat kami bersantap ini ada hiburan musik hidupnya (live music) yang cukup bonafid. Ada juga kami melihat “Taipan-taipan” Manila makan malam disini. Sayangnya tidak seperti di Jakarta yang hampir semua cafe dan restoran sekelas menyediakan koneksi wifi gratis, Roaming operator XL juga tidak tersedia disini, namun walaupun tersedia juga saya tidak tahan membayar biayanya.

Pukul 19:41:54 kami selesai makan malam, lalu langsung menuju ke hotel untuk check-in, pukul 20:43:48 kami baru menerima kunci kamar di hotel Somerset Salcedo Makati. (Pihak kedutaan biasanya menyarankan hotel dusit atau shangrila, mereka juga berikan harga corporate yang lebih murah).

Kami menerima sisa uang perjalanan ini (dalam US $) :

1.Tiket bisnis.    $1.203

2.Uang harian.  $ 1.375

(5 hari x $275)

Total $2.578

Pengeluaran :

Akomodasi/paket tour (5 hari): $1.700 (kelas ekonomi Singapore Airline dan kamar hotel seperti apartemen, lengkap dengan dapur, ruang tamu dan lainnya).

Maka sisa Uang perjalanan yang kami terima adalah sebesar $878.

Ada rekan yang mempertanyakan mengapa perjalanan DPR harus menggunakan jasa tour/travel agent? Bukankah acara semua sudah diatur oleh KBR setempat? masalah sewa mobil untuk transportasi selama disana juga bisa kita minta KBRI yang bantu atur, termasuk hotel juga bukankah akan bisa lebih murah karena langganan dari KBRI? Begitulah pertanyaan dari salah satu anggota dan saya juga.

Mungkin inilah alasan menjamurnya tour travel di dalam dan sekitar gedung DPR. Dan travel yang kami sewai malahan menempatkan satu stafnya mendampingi kami ke philipina, selama di philipina dan sampai kembali ke jakarta.

Tadi form imigrasi yang sudah saya isi, tidak terpakai, karena staf Tour tadi sudah mengisinya dan meminta saya tidak perlu lagi lakukan, saya jawab “saya pikir membantu kamu ngisi agar tidak terlalu banyak”

Kami mendapat kamar beda lantai semua, mungkin karena masing-masing mendapat kamar seperti apartemen, dan kamar sejenis ini hanya ada satu di masing-masing lantai hotel?

Jam 21:25:23 , mau mandi dan istirahat, besok pagi acara pertama jam 10 pagi di kedubes kita, yang lokasinya hanya 3 km dari hotel, sama-sama di kota Makati.

Selasa, 19 Oktober 2010

Pukul  08:43:09 pagi kami bersama-sama menuju lantai 6 untuk sarapan pagi, Hotel Somerset ini adalah “serviced residence“.

09:43:22 kami sudah di bis menuju KBRI, ditemani tour guide lokal yang memandu dan jelaskan. Ajaib sekali di kota ini tidak ada kemacetan karena mereka ketat sekali dalam mengatur jam dan hari beroperasinya mobil  dengan sistem nomor platnya, yang seri nomor tertentu bisanya hari tertentu dan juga ada MRT dan LRT di dalam kotanya. Kamera pengintai akan memfoto semua kendaraan yang melanggar peraturan tersebut.

Bisnis utama yang besar hanya dikuasai 2 orang turunan Spanyol, selebihnya turunan China .

09:58:52 pertemuan kami dengan Dubes di KBRI dimulai.

Di Philipina karena dianggap penting dan status Kedubes kita termasuk kategori besar, sehingga ada posisi DCM (Pak Nanang) dan Atase Militer, Polisi bahkan BIN juga ada di KBRI kita, Atase Pendidikan, Perdagangan. Ada juga Atase Pertahanan (TNI AL).

Banyaknya dari berbagai Kementerian menunjukan bagi RI status Philipina sangat vital bagi kepentingan nasional kita.

KBRI setempat menyiapkan buku kecil sekilas info tentang Filipina.

Pak dubes (bapak Yohanes Kristiarto S. Legowo)  juga merangkap jadi Dubes untuk 2 negara di gugusan kepulauan di samudra pasifik, yaitu  Republik Palau (ibukotanya koror) dan Republik Kepulauan Marshall (ibukotanya Majuro).

Walau dalam produk perundang-undangan demokrasi filipina termasuk lebih awal berkembangnya, tetapi pada prakteknya demokrasi kita saya rasa masih jauh lebih baik.

Pak Dubes sedang menyampaikan paparan tentang peranan kita disini, termasuk dalam membantu proses perdamaian di filipina selatan.

Para teroris asal kita juga banyak yang mendptkan pelatihan di filipina selatan, kita mendpt banyak informasi dari sini tentang gerakan teroris di negara kita.

Sistem hukumnya, Pidana diputuskan dengan misalnya 10 thn – 15 thn sekian hari, mungkin maksudnya agar tidak bisa dibebaskan sebelum 10 thn? Agar Jangan terjadi para narapidana koruptornya bisa seenaknya cepat dibebaskan seperti di Negara kita? Dan vonis dibawah 3 tahun?

KBRI juga memfasilitasi kunjungan keluarga narapidana indonesia di negara ini. Filipina juga ada sisi kerugian/ancaman bagi kita dari segi keamanan.

Di Mindanau ada WNI lebih dari 10 ribuan, dan cenderung menjadi “Liability” bagi kita karena mereka dimanfaatkan pengusaha sini menjadikan mereka sebagai nelayan yang mencuri ikan di wilayah perairan kita, makanya di filipina selatan ada kota general Santos menjadi pusat ikan tuna terbesar di Asia tenggara.

Modusnya adalah dengan cara kalau sudah berada di perairan kita, mereka akan pakai bendera indonesia, sesudah ,mendapat ikan tuna, balik lagi dengan bendera Filipina, kalau tertangkap mereka akan mengaku orang Indonesia, karena mereka aslinya adalah memang orang Indonesia.

Salim Group ternyata juga masuk lewat  badan hukum Hongkong untuk join bisnis disini.

Jumlah WNI sekitar 12,600 jiwa, 24 ditahan, 10 nya adalah masalah terorisme. Ada 2,271 turunan WNI secara tradisional yang tidak memiliki dokumen Imigrasi yang lengkap.

Soal perundingan dengan MNLF dan pemerintah filipina, ternyata juga ada kelompok  Kristen, Katholik dan Komunis, makanya gunakanistilah MNLF karena tidak bisa menjadi negara Islam, karena itu yang Islam buat sempalan MILF (malaysiajuga terlibat karena MILF jika menang tidak menuntut negara sabah).

Muhammadiyah disini sudah masuk sebagai “non-state”.

Yang kita perjuangkan adalah implementasi hasil perundingan damai sejak 1996.

Target KBRI kita di  Filipina agar tidak jadi Hotspot di Asean, dan tidak menjadi “Liability” bagi Indonesia.

Sistem legislasi disini adalah 2 kamar (senat dan house).

Tanya-jawab dengan Dubes dari beberapa rekan DPR, saat ini 10:58:05 pak Dubes menjawab secara Cluster, dalam 5 hal; sistem politik dan demokrasi di Filipina, terorisme, OFW (overseaa filipino workers),  perlindungan WNI dan masalah perbatasan.

Politik disini dipengaruhi dan dikuasai berbagai Clan, kepemilikan senjata sangat longgar, semua Clan bisa bentuk pengawal-pengawal pribadi yang kalau di clan yang besar mereka sudah seperti sebuah “pasukan tempur”.

Tingkat pembunuhan insan media disini sangat tinggi termasuk juga pembunuhan lawan politik.

Pemilu bisa memilih sampai belasan pilihan masing-masing Presiden, Gubernur, Bupati, Walikota dan para wakilnya. Dipilih terpisah, termasuk senatornya, bisa habis waktu setengah jam untuk berikan hak suaranya, untungnya ada sistem elektronik jadi cepat dan ada tim sukses yang kasihkan “contekan ” kepada pemilih termasuk uang 100 peso (kira-kira Rp.22.000 per pemilih), pengawas diamkan saja, politik uang sangat terang-terangan disini, Pemilu partai politik ada  sistem parliamentary Threshold (PT), hanya batasannya 2 persen saja (kita sudah 2,5%, bahkan sudah mau ditingkatkan sampai 5% pada pemilu 2014). Sistem Pemilu sudah otomatisasi yang mereka beli dari Venezuela.

Terorisme selalu bertumbuh subur di daerah konflik, karena pengawasan dan sosial kontrol masyarakat rendah. Indonesia bukan sarangnya tetapi adalah tempat targetnya.

Disini ada anti money laundering council yang berada di bawah Gubenur Bank Sentral Filipina untuk mencegah pencucian uang.

Soal OFW penjelasan Dubes waktu di bandara kepada saya diulang untuk menjawab pertanyaan rekan-rekan DPR lainnya.

Domestik helper (pembantu rumah tangga/PRT) adalah profesional, sehingga wajar bisa digaji lebih tinggi dari rata-rata PRT di Indonesia (RUU kita tentang PRTtelah di drop dari prolegnas 2010, mungkin alasannya karena kita belum siap laksanakan?)

Masalah  Intelijen dan Kontra-terorisme juga dibicarakan dalam diskusi ini.

Secara historis Spanyol tidak pernah bisa menduduki Mindanau dan orang disini secara sejarah tidak menyebut dirinya Filipina tetapi orang Moro.

Saat ini pukul 12:01:14 kami dijamu makan siang oleh KBRI (hal ini yang sering mengganggu anggaran di KBRI? kalau banyak tamu dari Indonesia terus menerus sepanjang tahun, biaya dari mana? )

Banyak hal-hal yang kami sebagai anggota DPR yang bukan di Badan Anggaran tidak tahu terlalu banyak, apalagi saya yang di komisi 2 bukan di komisi 1.

13:06:07 ada macet juga sedikit, kami sudah dalam perjalanan ke Parlemen Filipina, sudah 20 menit kami meninggalkan KBRI.

Pemandu menceritakan banyak hal termasuk perumahan elite orang kaya yang ditembok tinggi, para Dubes tinggal di kompleks ini termasuk Dubes kita yang rumahnya bersebelahan dengan Dubes Amerika Serikat.

Sistem MRT disini dimiliki perusahaan swasta dengan sistem BOT (built, operated, and transfer) untuk masa 25 tahun.

Imelda Marcos (janda mantan presiden Ferdinand Marcos tinggal di apartemen elit di lantai 30 seluas setengah lantai. (Demikian sekilas obrolan guide lokal di bis).

Macet juga bisa terjadi di Manila. Ternyata ada mobil tabrakan, namun sekarang sudah lancar lagi, jadi kesimpulannya Jakarta memang sudah tidak wajar macetnya, disini kalau dibilang macet ternyata tidak ada, semua rasional. Kalau dalam kondisi normal butuh waktu sekitar 1 jam dari KBRI di Makati city menuju ke gedung Parlemen di Quezon City .

Ternyata jauh juga menuju gedung parlemen, waktu 14:00:23, hujan dan di dalam bis ngantuk juga rasanya. Kami akhirnya samai juga, masuk gerbang kantor parlemen.

14:10:29 kami sudah dalam ruangan rapat ketemu komisi Legislasinya dipimpin yang terhormat Niel C. Tupas, JR. Dengan para Direktur dan deputi Eksekutif Direktur (Ms. Lorelei M.hernandez), Commitee Affairs department. Ditemani 14 stafnya, ini adalah komisi justice dari DPR filipina .

Ketuanya sedang memaparkan:

Sistem nya mirip dengan yang di Amerika (trias politika). Penyampaian dalam bahasa Inggris dan diterjemahkan ke bahasa Indonesia, terasa lama dan membosankan jelaskan sesuatu yang sudah bisa kita pelajari dari buku dan internet ?

Lagi cerita sistem Trias Politika dan cara pemilihannnya.

Wakilnya Komisi Justice hadir, yang terhormat Romeo Federico S. Qumbo (Deputy Majority Leader), juga hadir kemudian anggota yang terhormat (hon. MA.theresa B.bVonoan-David asal dapil 4th district – Manila).

Hon.marlyn L.Primicias-Agabas (chair person), juga hadir  hon. Victorino dennis M. socrates dapil 2th district – Palawan.

Sesuai UU tentang Bahasa Indonesia, seluruh acara kenegaraan kita akan memakai bahasa Indonesia dalam pertemuan resmi, baru diterjemahkan.

Intinya yang ingin diketahui soal masalah dan proses Legislasi di Philipina.

Mereka ada 5 anggota DPR , dari House Eules (ms. Agabas), anggotan House of Rules (Mr. Socrates)

Chairmannya mengatakan dia sebentar lagi ada rapat, jadi dia meninggalkan bahan bagaimana sebuah UU (bill) diproses sampai selesai. Jadi dia akan mengakhiri pertemuan Karena akan ketemu ketua parlemen, dia sediakan bahan agar kita bisa mempelajarinya

Pukul 14:52:27, pak Harry dari Demokrat minta ada waktu tanya jawab, dia bertanya apakah ada Parliamentary Threshold di Filipina? Jawabannya tidak ada pakai parlemen threshold, bedanya dari 278 anggota adalah perwakilan distrik secara individu sebanyak 80% dan 20%nya dari kaum marjinal /minoritas yang ditunjuk.

Jadi keterangan di KBRI berbeda, karena disini sistemnya. Distrik bukan partai sistem terbuka seperti di kita. Philipina tidak mengenal sistem Parliament Threshold.

Ibu Edy menanyakan soal RUU bantuan hukum yang sedang kami bahas di DPR, apakah ada? Legal aid sangat penting, mereka dibawah Departemen Kehakiman, dinamakan kantor pengacara publik, servis ke orang miskin, para pengacara harus berikan 10% waktunya untuk berikan bantuan hukum, orang miskin tidak ada denda / fee di pengadilan.

Pak jafar menanyakan berapa banyak RUU yang ditargetkan dan berapa yang disetujui dan jadi UU? Dia cerita soal hak veto presiden dan parlemen, prolegnas tergantung pada penyampaian Presiden pada saat Presiden menyampaikan pidato tahunannya. Saat ini di komisi mereka sudah ada seribuan yang belum dibahas, sebagian karena hasil veto presiden dan hasil veto balik dari Kongres, mereka tidak ada data pastinya,mereka janji diberikan, mereka baru mulai juli 2010, selama 3 bulan sampai saat ini mereka masih belum selesaikan 1 pun karena waktunya memang panjang.

Salinan RUU bisa dibagikan nanti. Pak Memed menanyakan soal supporting system untuk buat UU apa bentuknya? (Ketua dari filipina sudah ingatkan ini pertanyaan terakhir), mereka menyewa konsultan untuk bantu selesaikan, tingkat komite dan sekretariat adalah pendukungnya, mereka juga undang narasumber universitas dalam rapat-rapat komite. (Joint commitee hearing).

Sri Rahayu tanyakan soal pork barrel (dana aspirasi, mereka dpat US$ 1,5 million atau 70 juta peso) per distrik per tahun.

Pukul 15:21:31  kata sambutan ketua untuk akhiri pertemuan, dan saatnya tukar kado. Saya menemui beberapa staf sekretariatnya memberikan kartu nama dan mereka akan akan saling  menukar informasi soal materi RUU yang sedang mereka bahas dan kami bahas disamping yang sudah ada di website kami masing-masing.

Lalu kami ketemu ketua DPR Hon. Feliciano Belmonte jr. 15:44:08 , sedang diskusi

Datang lagi ketua komisi energi, yang diketuai wanita.

Kami mengobrol dalam bahasa inggris, untuk anggota yang tidak fasih kami gunakan penerjemah, ketua delegasi kami gunakan bahasa Indonesia.

Pertemuan akan diakhiri, kami sudah pamitan pukul 15:57:14.

Kami masih lanjuntukan lihat-lihat ruang sidangnya dan ruang rapat komisinya .waktu 16:14:43

Malam ini saya diajak NGO yang pernah saya temui di Surabaya untuk makan malam bersama Cawapres yang gagal di Pemilu 2010 lalu sambil makan malam, dia juga ketua partai kecil (berikut smsnya ke saya : “Good pm Bro.! We will meet Chairman Jun Yasay for a coffee on tue after dinner say 8 pm? He is the head of Bangon Pilipinas political party.”) setelah kami bicara lewat telepon, dia putuskan akan jemput aku di hotel pukul 18 sore untuk makan malam dan ketemuan.

Rombongan akan ke Shopping Mall mencari baju Barong Tagalog, setelah itu makan malam. Jadi saya terpaksa langsung menuju hotel begitu tiba di shopping mall. Tadinya mau naik taxi, staf kedutaan pak Hadi menawarkan antar saya ke hotel dengan mobilnya, mobilnya mengikuti bis kami. Waktu 16:50:36 kami masih dalam bis. Cuaca hujan terus. Sudah mau sampai, saya harus langsung memisahkan diri ikut staf kedutaan ke hotel. 16:57:48 .rombongan mau turun ke dept. store.

Aku sama pak Hadi nunggu mobilnya menjemput, aku numpang kembali ke hotel. Mobilnya memutar lagi, macet, kami balik masuk mall cari toilet di SM dept store.

17:16:49 sudah di mobil Toyata Innova milik staf kedutaan menuju hotel, 17:32:29. Tiba di kamar hotel .

18:00:33 sudah dijemput mr. Rumy Salvador untuk ketemu. kami dalam mobil Toyota Camry menuju pertemuan.

Pertemuan agak telat karena mr. Perfecto R. Yasay JR. Kami ngobrol soal demokrasi dan sistem pemilu juga partai politik sampai dana aspirasi yang ternyata juga rawan korupsi dengan permainan kontraktor yang bagikan fee. Cerita tentang korupsi di tingkat elite dan birokrasi (PNS) di Filipina, kami saling share soal korupsi dan cara yang dilakukan oleh elite dan birokrat di masing-masing negara dan solusi yang bisa dilakukan untuk atasi korupsi ini.

Beliau menghadiahkan 2 buku karangannya sendiri yang judulnya terminal four, corruption in america’s only colony in Asia Dan buku “out of the lions’ den.

Kedua buku ini diberikan komentar oleh fidel V.ramos (presiden Filipina 1987-1991).

Untuk buku yang pertama, komentarnya sebagai berikut: “A must read revelation on philippine contemporary happennings at high levels…an exciting,fast moving narrative…a warning to those involve in shady shenanigans…”Terminal four” provides both hope and comfort that crime does not pay

Untuk buku yang kedua komentarnya :”this is not only a courageous, credible expose.but more importantly,a great inspiration to public officials.”

Saya memberikan baju t-shirt dengan jahitan kain batik di bagian depan.

Setelah jam 21 30 , karena restoran jepang di hotel Shangrila sudah mau tutup, kami keluar bicara lagi sebentar di lobby dan Rumy Salvador antar aku kembali ke hotel.

Rabu, 20 Oktober 2010

Pukul 09:00:55  Waktu sarapan tadi ketemu staf travel, sangat mengejutkan ternyata di lembar acaranya memang pagi ini kosong, berbeda dengan di buku panduan yang saya miliki ada pertemuan dengan Commitee Interparliamentary Relations and Diplomacy jam 9 pagi. (Dan menurutnya jadwal ini sudah diketahui sejak dari jakarta), dan ketua maupun staf baleg juga tahu. jelas ini keterlaluan juga. Lalu saya tanya mau kemana? Katanya city tour pagi ini, jam 14 baru ada pertemuan sesuai di jadwal. Dan lebih gila lagi, dia katakan bahwa kami pulangnya kamis besok bukan jumat. Lalu pertemuan dgn lSM………..(bersambung)

BTP – Manila

Foto Kunjungan ke Phipina klik disini

  • Share/Bookmark

One Response to “Laporan Perjalanan Badan Legislasi DPR RI”

  1. Mudah mudahan kunjungan ke philipina bermanfaat ada pengalaman dan pembelajaran

    Reply

Leave a Reply