KEADILAN     UNTUK     RAKYAT                 BERSIH     TRANSPARAN     PROFESIONAL    
Home » BERITA, Laporan Kerja, NEWS » Pak Jokowi Tak Nyerah Rayu Pemerintah soal MRT

Ahok.Org – Setelah bertemu Menteri Keuangan Agus Martowardojo terkait proyek Mass Rapid Transit (MRT), Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo mengaku juga telah bertemu dengan Menko Perekonomian Hatta Radjasa. Jokowi menyatakan tidak akan menyerah merayu Pemerintah Pusat merenegosiasi perbandingan pengembalian pinjaman ke Japan International Cooperation Agency (JICA).

“Tadi kita sudah melapor ke Pak Menko, ke Pak Hatta sudah melapor,” kata Jokowi di Hotel Pullman, Jakarta, Rabu (5/12/2012).

Untuk menindaklanjuti proyek MRT, Jokowi bersama Menko Perekonomian merencanakan pertemuan dalam jangka waktu dua sampai tiga hari bersama Kementerian Keuangan, Kementerian Perhubungan, dan lainnya.

“Pokoknya yang berhubungan dengan MRT akan diundang. Supaya bisa segera diputuskan,” kata Jokowi.

Jokowi pun belum mau membicarakan apakah MRT itu akan ia bangun layang atau bawah tanah. Ia mengaku harus bertemu dengan Pemerintah Pusat dahulu untuk merenegosiasi dan dapat memutuskan nasib megaproyek tersebut.

Terkait pengembalian pinjaman ke JICA, Pemprov DKI harus menanggung 58 persen pinjaman, sementara Pemerintah Pusat hanya 42 persen. Sementara Jokowi menginginkan Pemprov DKI hanya menanggung 30 persen, sementara sisanya Pemerintah Pusat.[Kompas]

  • Share/Bookmark

29 Responses to “Pak Jokowi Tak Nyerah Rayu Pemerintah soal MRT”

  1. Pak Gubernur,
    Masyarakat anti KKN mendukung anda, jangan mau ditekan dan disetir oleh pihak2 yang berkepentingan dalam mega proyek ini.
    Duit Pajak hasil keringat rakyat yang akan digunakan untuk membayar bunga dan hutang mega proyek MRT ini dan juga mungkin korupsi yang akan dilakukan.
    Terima kasih

    Reply
    • BATALKAN SAJA…jika TIDAK EKONOMIS.

      ati2..klo diteruskan dg nilai skg bisa jadi PUKULAN YG MENJATUHKAN JB

      Reply
  2. jangan dibatalkan tapi dikaji ulang saja, saya kira langkah pak jokowi dan pak basuki sudah benar dengan mengecek ulang dibawah BPKP..dan mengkaji ulang dgn membentuk tim khusus., karena jakarta memang benar2 membutuh kan sarana transportasi selain kendaraan yang ada di main road (jalan utama)..

    Reply
  3. pak gub kalo menurut saya mega proyek mrt kalo memberatkan warga jakarta lebih baik jangan dibangun,kan menurut wagub pak basuki kalo kita membangun monorail dengan sisa apbd selama 4 tahun bisa bangun monorail tanpa pinjaman luar negeri,pak gub coba diteliti lagi mengenai mega proyek mrt good job for you

    Reply
  4. kebijakan yang melibatkan investasi jangka panjang dan jumlah besar sebaiknya memang perlu pertimbangan matang.
    namun, MRT tetap harus diadakan, bukan masalah gengsi, namun efisiensi waktu MRT ini sudah diakui di manapun.
    trims pak gub & wagub.

    Reply
  5. Pak ahok…
    sekali2 klu ad waktu coba lihat permasalahan yang ad di Indonesia timur papua…saya sangat miris melihat saudara qt yang disana jauh dari kata sejahtera dan maju…padahal daerah nya kaya tpi rakyatnya menderita dan banyak yg buta huruf tidak sekolah dan sehari2 hanya makan seadanya dari hasil hutan….dan sekarang mereka ingin merdeka nanti sudah ilang baru menyesal..atau merdekakan saja sekalian biar mereka terbebas dari kekejaman Indonesia yang selama ini gk peduli dengan nasib mereka..

    Reply
  6. “MRT itu akan ia bangun layang atau bawah tanah”? Bangun Layang(tinggi15-20m) aja pak, dibuat melingkari DKI (spiral)4 jalur=2 arah(kombinasi rel KA(angkutan massal+jalan).jadi rencana beli lahan(sepanjang spiral/lingkaran) jokowi tuk rusunawa bisa multifungsi, dibawah jalan layang bangun rusunawa(kampung deret 3 lantai)akan mampu menampung penghuni bataran kali/sungai dan warga miskin terlantar.semoga jadi pertimbangan pak jokowi-ahok

    Reply
  7. dulu foke mah kaga pernah mikir yang gini2.. tiket mahal bodo amat, yang penting ketok palu dapet KUMISi.. hahahihi

    Reply
  8. Menurut saya, sebaiknya jalur MRT memang dibuat dengan lebih banyak menggunakan jalur layang, agar tidak terkendala dengan pembebasan lahan, kerusakan dari perilaku oknum2 yang bersifat merusak/mengotori, hambatan dari lalu lintas ibukota, dsb.
    Usulan saya adalah, mungkin bisa dipertimbangkan untuk memanfaatkan bantaran sungai yang ada di DKI maupun bantaran Kanal Banjir Timur maupun Barat, untuk dimanfaatkan sebagai tempat penempatan kolom pancang, sebagai penyangga bagi jalur layang MRT.

    Tentunya dengan pemanfaatan bantaran sungai ini, beberapa keuntungan bisa didapat, antara lain:
    1. Tidak melintasi jalanan Ibukota yang padat
    2. Mengurangi biaya pembebasan lahan, karena memang secara hukum daerah bantaran sungai merupakan daerah yg harus steril dr pemukiman, dan sudah menjadi lahan aset pemda DKI
    3. Menghilangkan pengotoran sungai akibat sampah dari pemukiman yang ada di sepanjang bantaran sungai
    4. Waktu pembangunan lebih cepat
    5. Biaya pembangunan relatif lebih murah (dibanding membuat terowongan bawah tanah)
    6. Tidak merusak struktur tata ruang maupun tata kota DKI
    7. Relatif lebih aman, karena jalur steril dari kemungkinan perlintasan kendaraan maupun orang
    8. Secara estetika pemandangan dari dalam MRT keluar akan lebih baik, dibanding terowongan yg gelap
    9. Penghematan penggunaan listrik untuk penerangan MRT pada saat siang hari, tidak diperlukan penerangan untuk terowongan.
    dst.

    Demikian usulan saya, sebagai bahan pertimbangan yang mungkin bisa sedikit membantu memberikan sumbangan bagi kemajuan Ibukota DKI tercinta demi percepatan terciptanya Jakarta Baru yg kita semua dambakan.

    Reply
  9. Bpk Wiki YTh
    Sebenarnya Scheme nya bisa banyak optionnya
    1.100 % diberikan kepada Asing
    2.100 % didanai Pusat
    3. 100 % pr0ject pusat dimana 42 % Dki meminjamnkan loan ke Pusat dr Dana APBD
    4.Dengan kompisisi sekarang tapi Kontraknya di backdate biar Gubernur yg lama yg ttd
    5.100 % project DKI ,pusat mendrop dana ke APBD
    dan DKI bebas melakukan Tender Ulang
    6. Komposisi 70 ,30 % dan Tg jawab di Pusat
    sebab saham pusat lebih besar logikanya

    Reply
  10. kalo tiket mahal ,lebih baik jangan teruskan,nanti ndak ada yg mau naik buat apa.Meski disubsidi juga janganlah,subsidi kan artinya memberatkan kantung pemerintah
    juga,Saya yakin kalo pake teknologi lokal
    meskipun tak secanggih import,tujuan bisa tercapai dengan biaya jauh lebih murah.
    Suruh aja KAI yg kerja,awasi dan bina ,kalo perlu datangkan tutor tutor yg handal untuk membantu.

    Reply
  11. selamat berjuang Pak Jokowi dan Pak Basuki

    Reply
  12. Jangan menyerah Pak Jokowi dan Pak Ahok. Kami semua mendukung Anda ^_^

    Reply
  13. kaji dengan sangat detail dan pertimbangkan dengan matang manfaat dan madharatnya bukan hanya untuk rakyat tapi untuk wakil rakyatnya juga.

    Reply
  14. gimana cara macet hilang dari jakarta ?, kenapa? mobil murah?, Motor murah?, Transportasi umum jelek?, keamanan kah?, ekonomi balance kah?, bos, tingkat kerawanan jakarta ngeri, padahal pusat hankam dijakarta tapi kenapa angka kerawanan ada dijakarta pula!!!, lucu yaa, ktawa dulu h h h h h,

    Reply
    • kemacetan = perekonomian terganggu
      1 kk 2/lebih kendaraan = kemacetan
      tempat industri non central = kemacetan
      pekerja jauh dari tempat kerja = kemacetan
      dll dah

      Reply
  15. Salam Sejahtera pak…
    menurut hemat saya pembangunan MRT ini lebih baik berada di bawah tanah dengan sistem yang sama seperti di Taiwan.
    Disana mereka menggunakan sistem EazyCard dimana mereka membeli satu kartu seharga NT$300 (sekitarRp30,000,- atau lebih,namun di Jakarta bisa dibuat lebih murah)seperti magnetic card dan bisa di isi ulang. Lalu mereka juga menggunakan jasa Lansia untuk menjaga kebersihan di lingkunga statiun bawah tanah itu, Pak. Lalu juga ada tempat di bagian permukaan tanah yang bisa disewa untuk berjualan, seperti toserba dan restaurant. Itu usul saya untuk gambaran MRT jakarta, semoga bermanfaat.

    Reply
  16. sekedar masukan saja, mungkin utk saat ini lebih baik mengatasi dulu dengan dana seadanya, misalnya kredit ketat utk kendaraan. karena kalau dilihat sebenernya kemacetan itu dr kendaraan pribadi khusus nya mobil. bisa dilihat di sudirman.. setiap jam plng kerja selalu macet
    lalu mungkin jg dgn memberlakukan aturan misalnya karyawan kantor itu hanya boleh parkir jika plat nomor nya ganjil genap. sesuai hari nya, sehingga para pekerja kantor tsb bisa bergantian menggunakan angkutan umum dan tentunya angkutan umum itu harus memadai.. thx

    Reply
  17. mantap dan kedua duanya adalah harapan anak bangsa .

    Reply
  18. ku yakin . masih banyak anak bangsa yg sebersih jokowi dan ahok , cuma masih belum bermunculan saja , ini semuanya perlu campur tangan Tuhan , segala sesuatu ada waktunya , waktu ini sudah mulai , maka diharapkan semua rakyat mendukung pemimpin yg jujur bersih tegas ini . supaya bangsa NKRI Jadi makmur dan jadi negara yg disegani .

    Reply
  19. Menurut saya kedua-duanya baik MRT layang maupun bawah tanah memerlukan fondasi yang kuat baik secara fisik maupun penerapan dan pelaksanaan hukumnya.

    MRT layang sama seperti pembangunan gedung-gedung pencakar langit membawa ikon tersendiri tetapi pada saat yang sama juga mungkin membawa dampak terhadap keindahan kota, kota yang paling layak tinggal di dunia sempat memuat berita tentang semakin maraknya pembangunan gedung-gedung pencakar langit, membuat kotanya menjadi ‘shadowy’ dan tidak indah.

    Tentu setiap kota dan negara memiliki karakternya masing-masing.

    Pembangunan MRT selain bertujuan untuk mengatasi kemacetan, saya pikir perlu juga dipertimbangkan dari sisi tata kota, ‘sustainability’/keberlangsungan dan keramahan lingkungan. Sehingga meningkatkan ke-efisienan bertransportasi pada saat yang sama juga mendongkrak kualitas kelayakan maupun standar kota tersebut yang tidak mengorbankan keindahan kota/negara Jakarta.

    Reply
  20. kebijakan MRT sdh tepat, sy harap nantinya ada dari titik perumahan karyawan di jabodetabek. utk saat ini yg hrs segera dilakukan adalah menertibkan truk2 yg melintas di dalam kota, krn aturannya sdh ada bhw merka hanya boleh beroperasi mujlai jam 11 malam sd 5 pagi. petugas hrs diperbanyak utk monitor truk yg melintas di luar jam ini. trmksh

    Reply
  21. Bapak juga harus memperhatikan tempat masuk, dan keluar MRT, menurut saya itu bakal bisa membuat kemacetan yang lebih parah dipintu masuk, dan pintu keluar. DARI 1 MONOREL (1 JURUSAN), BAKAL BANYAK ORANG YANG MENGANTRI HINGGA MACET DIPINTU MASUK, DAN KELUAR jika bapak tidak membuat solusi yang tepat. Mungkin bapak bisa menyediakan jalur keluar yang lebar dengan tangga, dan jalaur miring untuk bawaan (koper, dll) agak lebar. Dan membuat stasiunnya berdekatan palingan jaraknya 5-10 KM. Bapak juga harus menyediakan tempat parkir kendaraan untuk yang berkerja (misalnya bawa mobil, karena rumanya jauh dari stasiun A, dan tempat kerjanya dekat dengan stasiun B) yang pasti bakal menginap. Perhatikan itu bapak. Kalau mau juga bapak sediakan tempat / usaha kerja di atas MRT, menurut saya jangan dibawahnya. T.K.

    Reply
    • dan menurut saya MRT Dibangun di bawah tanah saja(stasiunya), dan atasnya pertokoan / kantor. Bisa juga mall.

      Reply
  22. Pak, boleh aja MRT…kita senang…tapi bus luar kota nya mohon jangan dipindahin…karena penting untuk masyarakat sekitar (cinere, ciputat, lebak bulus, sawangan) kalo ke luar kota lebih mudah untuk mencari bus luar kota….

    Saya mendengar beritanya bus luar kota akan dipindahkan ke kampung rambutan atau daan mogot…kejauhan untuk warga sekitarnya, pak…

    terima kasih atas perhatian bapak.

    Ella

    Reply
  23. Bapak gubernur,mengapa transjakarta,banyak yg rusak,karena pemeriksaan bis2nya waktu datang dari chinanya,tidak diperiksa dgn teliti,apayg harus diperiksa Saya bekerja di NY sebagai,inspector MRT, semoga bapak lebih hati2 dlm pengelolaan MRT atau transJkt,karena apabila terjadi kerusakan atau kecelakaan,akan memacetkan,lalulintas diJkt mohon maaf bahasa saya yg agak,kasar,mari bangun Jkt ke modern dunia ini

    Reply

Leave a Reply to toga