Kaukus DPR RI Untuk Kesehatan Rakyat Resmi Dideklarasikan

0
124

Ahok.Org (3/4) – Kaukus DPR RI untuk kesehatan rakyat, sebuah perkumpulan  yang terdiri dari anggota DPR RI Lintas Fraksi, Lintas Komisi serta Lintas Profesi yang peduli terhadap masalah kesehatan dan keejahteraan masyarakat Indonesia , Rabu (30/3) resmi dideklarasikan di Gedung DPR RI. Bersamaan dengan pelaksanaan seminar kaukus kesehatan DPR RI dengan tema “Memilih Prioritas Program Gizi Untuk Membangun Manusia Indonesia Prima”

Menurut dr. Subagyo Partodiharjo, ketua kaukus DPR untuk kesehatan rakyat, Kaukus ini dibentuk sebagai wadah perjuangan para anggota DPR RI yang concern terhadap permasalahan kesehatan dan kesejahteraan masyarakat, oleh karena itu keanggotaan kaukus ini bersifat terbuka bagi seluruh anggota DPR. Hingga deklarasi, tercatat sebanyak 110 orang anggota DPR RI menyatakan bergabung dengan Kaukus ini.

Ditambahkan oleh Ir. Basuki T. Purnama (Ahok), yang merupakan Sekretaris Kaukus, peran penting dari Kaukus ini adalah menjadi semacam lembaga advokasi bagi masalah kesehatan dan kesejahteraan masyarakat. Terutama dalam hal sinkronisasi kebijakan kesehatan antara pemerintah pusat, daerah serta DPR dan DPRD di daerah. Karena manurutnya selama ini kebijakan yang sesungguhnya baik di pusat terkadang tidak dapat diterjemahkan dengan baik sampai level Kabupaten/Kota. Menurut Ahok, Kaukus ini akan bekerja sesuai dengan tiga tugas pokok anggota DPR, yaitu dalam konteks legislasi, anggaran dan pengawasan. Dengan demikian program kesehatan baik di tingkat nasional hingga ke tingkat kabupaten/kota dapat dijalankan dengan baik

Acara seminar Kaukus Kesehatan DPR RI tersebut mengambil tema besar pembangunan Gizi masyarakat. Karena Kaukus Kesehatan DPR percaya bahwa muara dari pembangunan manusia Indonesia yang seutuhnya bermula dari pola makan dan asupan gizi. Seminar Menghadirkan Menteri Kesehatan RI Ibu Endang Rahayu Sedyaningsih sebagai Keynote speaker, serta para pembicara yang ahli di bidangnya seperti Ketua Persatuan Ahli Gizi Indonesia (Peragi) DR. Minarto, MPS, Ketua Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI ) Dr. H. Adang Bachtiar MPH ScD, dan pakar gizi Universitas Hasanuddin sekaligus Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI), Dr. Abdul Razak Thaha.

Dalam paparannya, Ketua Persatuan Ahli Gizi Indonesia (Peragi) Dr. Minarto mengatakan angka konsumsi pangan penduduk Indonesia masih belum berimbang. ketidakseimbangan tersebut terlihat dari jumlah konsumsi pangan. Berdasarkan data terakhir tahun 2010 oleh Peragi terungkap bahwa masyarakat Indonesia memiliki angka konsumsi pakan hewani terbesar sebanyak 60 persen, sementara jumlah pangan yang kita miliki itu berlebih di beras dan minyak. Hal ini megindikasikan dari segi jenis pangannya kita telah cukup, namun jumlah yang dikonsumsi yang belum berimbang, misal antara konsumsi hewani dan karbohidrat. Terlebih lagi, lanjutnya, proporsi pengeluaran terbanyak di kalangan masyarakat untuk tembakau dan alkohol. Menurut dia, hal itu berakibat pada belum membaiknya kondisi gizi masyarakat Indonesia yang memiliki kaitan erat dengan tingkat kesehatan masyarakat.

Sementara itu, Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI), Abdul Razak Thaha, lebih menyoroti masalah kelambanan pihak Kementerian Kesehatan RI dalam memperbaiki status gizi masyarakat Indonesia. Hal tersebut terlihat dari data tahun 2007-2010, yang menunjukkan perbaikan status gizi masyarakat di Indonesia hanya meningkat sedikit, yakni hanya sebesar 0,5 persen. Padahal menurutnya, anggaran Kemenkes dari tahun ke tahun terus mengalami peningkatan signifikan. Bahkan anggaran perbaikan gizi sesungguhnya bukan hanya berasal dari Kemenkes, tapi juga ada Pertanian, Perdagangan, Kemenko Kesra dan hampir di tiap Kementerian.

Berdasarkan data tahun 2010, tambahnya lagi, ada sebanyak 20 Provinsi mengalami peningkatan pada prevalensi gizi kurang, sementara ada 13 Provinsi yang hasilnya tidak berubah dari tahun sebelumnya (stagnan). “Dalam indikator program nasional, penanggulangan masalah gizi adalah pengguna dana terbesar atau berada di nomor 1, karena hampir disemua Kementerian memiliki program berkaitan dengan perbaikan gizi, tapi efektivitas dan capaian programnya hanya berada di urutan ke 5” papar Razak Thaha.

Ketua Kaukus Kesehatan DPR RI dr. Subagyo Partodiharjo yang juga menjadi pembicara dalamseminar ini mengetengahkan adanya pola makan yang keliru dalam masyarakat yang menyebabkan pertumbuhan generasi muda khususnya, menjadi tidak maksimal. Beliau menambahkan perlunya suatu kajian khusus dan serius soal pembangunan gizi kesehatan masyarakat. Sebab, kata dia, manusia tidak hanya menjadi obyek dalam pembangunan namun lebih dari itu, merupakan subjek yang sangat menentukan arah dan keberhasilan pembangunan itu sendiri. “Kegiatan aksi masyarakat yang sadar gizi juga perlu kembali ditingkatkan” tambah Ketua Kaukus yang juga anggota Komisi IX DPR RI ini.

Menteri Kesehatan Endang Rahayu Sedyaningsih yang berkenan hadir pada sesi siang memberikan sambutan yang sangat positif terhadap terbentuknya Kaukus Kesehatan ini. Dalam pandangannya Kaukus DPR RI untuk kesehatan rakyat ini akan punya peranan yang sangat positif dalam pembaharuan dunia kesehatan dan Gizi di Indonesia.

Dalam kesempatan ini, Menkes memaparkan rencana pemerintah menyiapkan bantuan operasional kesehatan (BOK). Bantuan ini disalurkan ke puskesmas di daerah yang terdeteksi gizi kurang. “Untuk pemulihan bagi anak balita gizi buruk itu bisa memanfaatkan dana BOK dengan memberikan makanan tambahan (PMT) pemulihan,” tutur Menteri Kesehatan.

Dalam laporan tahunan Kemenkes 2010 disebutkan prevalensi gizi kurang di beberapa daerah. Prevalensi 20 persen ada di 15 provinsi (di antaranya Aceh, Kalimantan Tengah, dan Nusa Tenggara Timur), 15-20 persen di sepuluh provinsi (termasuk Jawa Timur), dan di bawah 15 persen di delapan provinsi (sesuai target RPJMN dan MDGs).

Dalam penutupnya, Ibu Menteri Kesehatan mengutip kalimat bijak yang mungkin dapat menggambarkan esensi dari seminar ini, yaitu “Tidak ada sesuatu yang lebih penting untuk negara selain kesehatan masyarakatnya, dan perhatian terbesar suatu negara haruslah pada kesehatan rakyatnya”

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here