Ide Jokowi Menarik Pembeli ke Blok G

4
364

Ahok.Org – Gubernur DKI Joko Widodo terus berusaha mempromosikan kawasan blok G Tanah Abang. Sejumlah program disiapkan, termasuk membuat undian berhadiah mobil.

“Sebentar lagi saya taruh mobil di Blok G sana,” kata Jokowi di Balai Kota DKI, Jl Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Senin (9/9/2013).

Jokowi belajar dari cara promosi supermarket di Indonesia. Mereka jor-joran beriklan di media massa dan menarik pembeli dengan program diskon atau promo lainnya. Tak mau kalah, promosi pun bisa diterapkan untuk pasar.

“Ya kaya di mal kan. Kalau di mal hadiahnya kulkas, kalau di pasar mobil. Jangan kalah,” imbuhnya.

Soal anggaran, Jokowi tak mau pusing. PD Pasar Jaya akan mencari solusi untuk masalah itu. Yang terpenting, para pedagang di Blok G bisa mendapat pembeli.

“Kita coba dulu blok G. Nanti yang lain, bisa menyusul,” tegasnya.

Para pedagang di Blok G Tanah Abang sebagian besar didominasi oleh PKL yang semula berjualan di jalanan. Mereka dipindahkan karena mengganggu lalu lintas. Agar tak balik lagi ke jalan, Jokowi berusaha agar para pembeli terus berdatangan di blok yang sebelumnya kosong karena ‘terpencil’ itu.[Detikcom]

4 COMMENTS

  1. Ya tapi spt yg pernah saya katakan/usulkan dulu: “Bukannya, spt layaknya mal/supermarket, seharusnya ada elevator2 utk memudahkan akses ke lantai yg lebih tinggi?”

    Kita harus mengerti kebiasaan warga kota sini yg malas berjalan datar (itu aja masih pake acara nabrak tiang stlh nyebrang sembarangan) apalagi naik tangga scr ‘manual’, belum lagi yg bermasalah dgn ‘power’ kaki (kaum renta/gemuk, dst), sudah pasti yg akan mereka cari ya naik ke lantai atas dgn cara ‘matic’ alias via elevator/lift.
    Dan benar saja, ‘analisa’ saya terbukti 100% kan? Tuh di tipi2, penjual2nya di lantai atas Blok G pada minta elevator dipasang biar bisa rame pengunjung utk lantai2 di atasnya (apa mereka rajin baca2 AHok.org juga ye? jadi “TaZ-maniacs” juga gituh… πŸ˜€ hehehe..).

    Mau gaya kayak mal/supermarket bikin undian berhadiah mobil, tapi kalo gak ada elevator minimalnya, mana layak disebut spt itu? πŸ™‚
    Percuma taruh mobil disitu (cuma seasonal only, abis itu bubaran sepi lagi), mending duitnya buwat bikin elevator2/lift2 ajeh… lebih pasti dan sudah terbukti lewat analisa statistik yg sudah2.
    Kalo masih kurang duit buat bikin, minta tambahan ‘pajak’ sama pedagang2 yg dapet akses elevator, spt pajak penerangan jalan yg dipungut pemda itu.
    Tarik aja tambahannya sekitar 10-20 K sebulan/pedagang juga gak bakal keberatan utk ongkos maintenance-nya daripada omzetnya turun drastis (bisa minimal jutaan/hari loh! kalah dah ane waktu jualan ikan cupank dulu di depan istana negara, mentri aja pada ngutang mulu, alesannya belon disetujui DPR APBN-nya utk biaya operasional ikan cupank :D) – toh mereka juga yg minta2 fasilitas ini (suruh tanda-tangan perjanjian bhw mereka yg minta klo perlu), yg penting bisa rame terus pengunjungnya. Gak usah mikir kapan bisa balik modal, ente pemda bukan swasta yg ingin waktu baliknya kebanyakan harus cepat dan pasti.

    Oh btw, bulan Nov-Des matahari sudah diatas kita lewat dikit ke selatan, jangan lupa cek tanggul2 dan saluran2 air dari kebocoran2/retak2 dan hambatan2/sumbatan2 (spt biasa kontrol rutin ini harus dilakukan oleh dinas2 terkait spesialis saluran air dan kebersihannya)… jaga2 ajeh jgn sampe ada yg jebol lagi kek dulu…

    • Mantap Taz… (y) emank elevator itu amat penting kalau mau blok G banyak pengunjung. kasih kipas angin dimana2 supaya tidak keringatan pengunjung walau cuman sekedar lihat2 sekalipun. hehehee… kudu penting itu loh πŸ™‚

  2. Penataan yang dilakukan oleh pemprov DKI adalah baik sekali termasuk kampung deret, penataan kawasan tanah abang.
    Sebenarnya lokasi yang ditata tersebut adalah rute yang biasa saya lewati namun sejak menjadi padat dan semrawut saya tidak lagi gunakan rute tersebut, dan sekarang setelah ditertibkan saya coba menggunakan rute tersebut. Terima kasih untuk usaha dan kerjakeras pak Gub dan Wagub dan perangkatnya.
    Namun dalam beberapa hari terakhir ini setiap sore hari diwaktu saya melewati rute tersebut terutama di jalan KS Tubun 1 (gang Arlan) mulai didepan hotel Alma / Indonesia Power sampai dengan jembatan dekat Museum Tekstil sudah dipenuhi oleh PKL lagi dan menggelar lapaknya dengan terang terangan, padahal diujung jembatan jati bunder ada pos gabungan namun tidak ada petugasnya, sehingga pengawasan dan preventif tidak jalan lagi.
    Untuk itu mohon pak Gub dan Wagub terus gedor para SKPD yang terlibat dalam tugas tersebut untuk tetap konsisten dan sungguh sungguh dalam menjalan tugasnya, kalau ada yang tidak benar karena sudah tidak menerima setoran segera saja di mutasi atau di β€œtopstop” saja.
    Begitu pula dengan jalannya disekitar stasiun Tanah Abang yang banyak dipakai untuk ngetem mikrolet + parkir ojek.
    Kelihatannya perlu terus adanya yang menggedor untuk tetap konsisten dalam menjalan tugasnya.

    • Sumber permasalahan dasarnya yang tidak diberantas pemprov DKI, karna pemprov DKI lebih senang segera terlihat hasil kerjanya dan dapat pujian. tapi sumber permasalahan yg mendasar adalah begitu amat mudahnya seseorang berjualan menjadi PKL. Kita tahu bahwa seseorang yang ingin berusaha harusnya mengurus CV atau PT. begitu pula di pasar2 umum. harus didata semua orang yg melakukan usaha dagang tanpa kecuali. Punya surat ijin untuk berdagang. makanya semuanya ini hanya untuk imej saja tujuannya, atau bisa dibilang kampanye terselubung untuk pilpres nanti. cepat atau lambat, hal ini akan menjadi bumerang bagi hasil kerja Gubernur & Wagub DKI.

Leave a Reply to Grace Cancel reply

Please enter your comment!
Please enter your name here