Menegakkan Moralitas

0
158

BTP – “Dunia adalah tempat berbahaya bagi kehidupan. Bukan karena orang-orang jahatnya. Tetapi lebih karena orang-orang tak melakukan apapun terhadap orang-orang jahat itu”. Albert Einstein.

Negara ini, dalam perkembangan di tahun-tahun terakhir, mengalami banyak kemajuan. Ekonomi tumbuh 5.4 persen di triwulan III/2022. Lima besar terbaik diantara negara-negara G20.

Pandemi yang berhasil diatasi telah memulihkan aktivitas ekonomi. Oktober 2021, Indonesia tercatat sebagai negara dengan pemulihan dari Covid-19 terbaik di ASEAN.

Sektor keuangan jauh lebih sejat. Persentase kredit macet terhadap total pinjama pada 1997 sekitar 27 persen, jauh lebih tinggi dibandingkan 2008, 2013 dan 2020 yang dibawah 4 persen. Rasio utang terhadap PDB turun dari 77 persen tahun 2001 menjadi 25 persen. Dan, banyak lagi pencapaian negara ini.

Namun, dengan sejumlah prestasi diatas, dengan semangat untuk menyongsong Indonesia Emas 2045, kita harus membuka mata lebar-lebar terhadap “the brutal facts” yang mengancam peradaban bangsa ini.

The brutal facts adalah terjadinya kemerosotan moralitas dalam kehidupan masyarakat. Nila-nilai keburukan dan kejahatan merajalela.

Pengertian “moral” disini adalah “perilaku hidup manusia yang mendasarkan pada kesadaran, bahwa ia terikat oleh keharusan untuk melakukan kebaikan-kebaikan, sesuao dengan nilai dan norma yang berlaku dalam lingkungannya”.

Suami meracuni istri, untuk alasan yang remeh. Para pemuka agama mencabuli santri-santrinya. Anggota Dewan memukuli perempuan. Ada kasus bertele-tele seorang jenderal yang ajudannya dibunuh secara keji. Bahkan, kasus ini makin membuka mata masyarakat ada sesuatu yang salah dalam banyak lembaha negara.

Korupsi-korupsi (KKN) semakin menjadi-jadi. Penggelapan dan manipulasi kekayaan negara terus berjalan masif. Berurusan dengan aparat berarti harus siap menyuap. Kolusi kejahatan, atau tepatnya mafia, beroperasi hampir dalam segala penjuru kehidupan.

Pembentukan dinasti politik, yang penuh dengan penyalahgunaan wewenang dan pengaruh makin meluas.

Kesemua perbuatan lancung itu jelas menggerus peradaban bangsa. Merusak rasa saling percaya. Merongrong kekayaan negara. Makin menyusahkan hidup rakyat. Ibarat rayap yang jumlahnya tak terhingga, yang siap meruntuhkan bangunan tinggal kita.

Bahkan hukum alam menentukan bahwa dunia adalah soal berpasang-pasangan ada hukan dan panas, ada kebaikan ada kejahatan, itu hal yang memang tak mungkin kita tolak.

Dikatakan oleh Marcus Aurelius Kaisar Romawi 161-180 M,”Kehidupan adalah suatu tempat bagi kebaikan dan kejahatan.”

Namun secara akal sehat, peradaban manusia yang baik, yang sesuai dengan tuntutan moral, adalah hal yang pasti menjadi dambaan kita semua. Kehidupan yang aman, tenteram, damai, adil dan sejahtera adalah keinginan kita semua.

The brutal facts, menurut Jim Collins, dalam Good to Great, adalah hal-hal buruk, yang harus ditanggulangi, harus diperangi.

Meskipun, kebiasaan berperilaku buruk jelas bukan hal yang mudah dihadapi, apalagi diubah “Jauh lebih mudah mengelolah plutonium daripada mengubah sifat jahat manusia.” ujar Albert Einstein. Mengapa demikian?

“Merupakan sifat alami kebanyakan manusia untuk tidak pernah puas, dan mereka hidup hanya pemuasan itu,” kata Aristoteles. Untuk mengejar kepuasan itu, perilaku jahat sering menjadi pilihan tindakan, tanpa batas. Nyama orang, misalnya, tak ada lagi harganya.

Sementara itu, Samuel Butler, novelis era Victoria, menengarai, penyebab sifat jahat adalah kerakusan terhadal ha-hal kebendaan, Ia katakan,”Keinginan akan uang adalah akar penyebab segala kejahatan.”

Dale Carnegia, pendidik terkemuka di bidang hubungan antarmanusia, menyatakan,”Ketika berhadapan denga manusia, ingatlah bahwa Anda tak berurusan dengan mahluk logika, tapi mahluk emosi.” Kerap kita melihat, akal sehat dikalahkan oleh syahwwat kejahatan yang tak terbendung.

Jadi, semoga kita terus bersemangat menggenggam kuat-kuat dan membangun nilai-nilai moralitas di negeri ini. Semoga kita konsisten memelihara kebiasaan diri berbuat kebaikan, bukan kejahatan.

Bahkan, bila perlu, semoga kita siap melawan berbagai kejahatan, sesuai dengan kemapuan kita masing-masing. Kita lawan the brutal facts yang akan menghancurkan kehidupan kita semua. Memang benar,”Tidak semua orang mampu melakukan hal-hal besar. Tapi semua orang pasti mampu melakukan hal-hal kecil dengan cinta yang besar.”

Optimisme adalah landasan perjuangan kita. The Iron Lady, Margareth Thatcher, menegaskan,”Saya ada di dunia politik karena konflik antara kebaikan dan kejahatan. Saya meyakini sepenuhnya, pada akhirnya kenaikanlah yang akan menjadi pemenangnya.”*

Pongki Pamungkas

[*Artikel ini dimuat di: SWA Edisi 8-21 September 2022]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here