Umur Bertambah, Ahok Tak Ingin Menjadi Cabai Pedas

3
105

Ahok – Saat menjadi pembicara Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok menjelaskan tiga poin terpenting pemimpin masa depan.

“Pertama, tidak boleh terima suap karena tugas kita bukan untuk memberikan bantuan sosial, tapi untuk menerapkan keadilan sosial,” ucap Ahok di Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Selasa (27/10/2015).

Selain itu, menurut Ahok, pemimpin masa depan adalah seorang pemimpin yang tidak berpihak dengan partai, “Istilah kerennya no partiality. Kalau terpaksa ribut sama partai, ribut saja sudah,” ujar dia.

Poin ketiga, seorang pemimpin sikapnya harus santun. Itu juga yang saat ini sedang dipelajarinya. Karena setiap pemimpin harus belajar apa yang menjadi kekuarangannya.

“Harus santun. Saya pun belajar santun. Jangan jadi cabai yang makin tua makin pedas. Setiap pemimpin harus belajar mana yang menjadi kekurangannya,” kata Mantan Bupati Belitung Timur ini.

Tapi, untuk menjadi seorang pemimpin masa depan, kata Ahok ada satu hal yang paling terpenting dari poin-poin tadi.

Ahok mengatakan, pemimpin masa depan, haruslah seorang pemimpin yang bisa memaafkan, dan tidak iri hati terhadap perbuatan-perbuatan masa lalu, “Inilah rekonsiliasi nasional,” tambah dia.

Ahok hadir dalam seminar di PTIK. Turut hadir sebagai pembicara selain Ahok, yaitu Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo, Kapolda Irjen Pol Tito Karnavian, dan Reynald Kasali. [Tribunnews.com]

Di Seminar Revolusi Mental, Ahok Ingin Seperti Tebu dan Belajar Santun

Gubernur DKI Jakarta Basuki T Purnama (Ahok) menjadi salah satu pembicara di Seminar Nasional 2015 soal Revolusi Mental pagi ini. Ahok menyebut seorang pemimpin yang baik tidak menerima suap dan tidak berpihak.

“Pemimpin saat ini harus jelas tidak bilang terima suap, tugas kita bukan memberikan bantuan sosial tapi (memberikan) keadilan sosial. Kita tidak bisa berpihak, harus Bhinneka Tunggal Ika,” ujar Ahok dalam Seminar Nasional 2015 yang mengusung tema ‘Melayani Dengan Revolusi Mental’ di Auditorium PTIK, Jakarta Selatan, Selasa (27/10/2015).

Hadir dalam kesempatan ini Mendagri Tjahjo Kumolo, Kapolda Metro Jaya Irjen Pol Tito Karnavian, Wakapolri Komjen Pol Budi Gunawan, akademisi Rhenald Kasali dan segenap pejabat kepolisian lainnya.

Ahok juga menyebut seorang pemimpin harus memiliki sikap yang santun. Seolah sedang mengingatkan dirinya sendiri, dia pun berkelakar kalau saat ini tengah belajar santun.

“Ke depan pemimpin harus belajar santun, ini saya juga mau belajar santun,” kelakarnya yang mengundang tawa seisi ruangan.

Selama ini Ahok kerap dikenal dengan gayanya yang ceplas-ceplos. Bahkan terkadang suka asal dalam berbicara. Sadar akan hal itu Ahok mengatakan, dirinya ingin belajar menjadi tebu.

“Saya bukan politisi yang baik. Saya kadang-kadang sudah ngomong baru mikir, itu yang masalah. Saya ingin jadi tebu karena makin ke bawah makin manis,” terangnya.

“Harusnya orang makin tua makin manis ucapannya, jangan (pedas seperti) cabai. Orang harus terus menerus belajar, pemimpin masa depan yang bisa memafkan dan tidak iri hati,” lanjut Ahok.

Dia juga mengatakan, untuk memimpin Ibu Kota saat ini tidak perlu lagi dengan cara marah-marah. Sebab sejak duduk di pucuk pemerintahan, dirinya bisa langsung merotasi pejabat yang kinerjanya tidak sesuai dengan target pembangunan.

“Sekarang saya enggak marah-marah lagi karena kalau dulu kan Pak Jokowi yang tanda tangan (rotasi pejabat) karena Wagub enggak punya kuasa. Sekarang jadi Gubernur saya jarang marah, tanda tangan saja langsung pecat,” candanya.

“Bagi kami di DKI tugasnya harus jelas. Targetnya membuat gol. Memenuhi isi kepala, perut dan dompet. Bentuk perhatian kepada masyarakat seluruh kantor lurah, camat ada PTSP (Pelayanan Terpadu Satu Pintu),” tutup Ahok. [Detik.com]

3 COMMENTS

  1. Pakgub jangan lupa pesan BG jangan terlalu banyak makan tolong diet, sebab gemuk! Itu pertanda tidak sehat, jadi tolong jangan hanya berseru orang harus hidup sehat sendiri juga harus sehat dengan lebih langsing, lihat itu Pak Heru, BPKAD.
    PakGub kalau bicara itu hati2 sebab media+lulung+dprd sunierman itu langsung mlintir,dengan demikian diketahui ya PakGub musuhmu itu banyak, dan yang mau menjatuhkanmu itu sebanyak yang mendukungmu, jadi bicaranya hati2 ya OmBas, tiap hari minta bimbingan untuk yang keluar dari mulut. Banyak orang pasti tahu bukan maksud buruk dari PakGub, tetapi apa yang keluar dari mulut bisa kemana2. Mengapa redaksi seperti ini, saya tidak akan minta maaf kepada TNI karena saya memang tidak melecehkannya. Mengapa kalimatnya tidak demikian: Setiap saat saya suka minta maaf kepada TNI kalau saya bersalah, tetapi TNI adalah mitra kerja terdekat dari pemprov DKI dan dalam segala hal TNI selalu turun tangan lihatlah Ciluwung. TNI simbol reformasi dan birokrasi terbaik tertransparan, selalu saya akan minta maaf kalau2 saya salah kepada mitra terdekat pengayom rakyat ini. Coba kalau kalimat Anda begitu kan bagus jadinya. KDSAD Jend Gatot Nurmantyo itu orang yang berjiwa besar dan simbol demokrasi supremasi TNI, ada orang yang bicara demikian di republik ini, tentara pisan, yang tidak jarang selalu negatif anak buahnya, have to admit! Jend. Moeldoko sediri mengatakan pada waktu pembaretan itu,kalau ada apa2 jangan sungkan minta bantuan, nah apa lagi Om Basuki. Jadi kalimatnya diperbaiki, saya tolong apa?
    Sekalipun demikian sangat harus dihargai bahwa PakGub ini mengatakan akan selalu belajar dan tidak berhenti belajar, jadi haters bisa melihat humblenya PakGub tetapi sekalipun demikian tetap perhatikan kosa kata dan kalau meralatnya lakukan dengan baik. Tanya staf khususna itu OmBas. Saya buatkan redaksinya apa? Pesan saja ke Om Sak. PakGub get better,everyday better than yesterday! Dan jangan lupa minum obat, sudah dari dulu pembuangan dan recycling sampah itu harus diurus di DKI sendiri, berhubung sekeliling hanya pecundang,faham kan Om.

  2. “Umur Bertambah, Tak Ingin Menjadi Cabai Pedas”…HAHAHAHA…INI SIH MIRIP OMONGAN STAND UP COMEDY…ENTE UDAH LAMA JADI CABAI SUPER PEDAS…DAN BAKAL SETERUSNYA JADI CABAI SUPER PEDAS…

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here